Minggu, 18 November 2018

Nila Tanzil, Buku untuk Anak Indonesia Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kegiatan voluntourism, bersama Nila Tanzil dan penari Caci Dance. Travelsparks.co

    Ilustrasi kegiatan voluntourism, bersama Nila Tanzil dan penari Caci Dance. Travelsparks.co

    TEMPO.COJakarta - Sering kita mendengar pendapat bahwa minat baca anak zaman sekarang sudah turun, atau bahkan mungkin hilang. Namun penulis dan pendiri Taman Bacaan Pelangi, Nila Tanzil, membuktikan sebaliknya. Bukan minat membacanya yang turun, melainkan ketersediaan bukunya yang tidak ada.

    Nila melihat sendiri betapa anak-anak di Indonesia Timur, tempat ia mendirikan Taman Bacaan Pelangi—tersebar di 15 pulau dengan lebih dari 85 ribu koleksi buku—selalu antusias dengan buku-buku yang dibawanya. Anak-anak menantikan buku seperti menantikan sebuah hadiah yang sangat istimewa.

    Artis sekaligus pemerhati pendidikan anak, Shahnaz Haque, juga penulis sekaligus relawan Taman Bacaan Pelangi, Windy Ariestanty, yang hadir dalam acara peluncuran buku Lembar-lembar Pelangi di Jakarta, Kamis, 6 Oktober 2016, menjadi saksi bagaimana antusiasme membaca anak itu nyata.

    “Kalau datang buku-buku baru, anak-anak berlomba membantu mengangkut dan merapikan buku-buku ke dalam rak. Tapi baru saja masuk rak, mereka langsung mengambilnya lagi, kemudian duduk melingkar untuk membacanya,” kata Windy, yang juga sahabat Nila. “Jadi pendapat yang bilang minat baca anak turun itu ternyata salah. Bukunya saja yang tidak ada,” ujar Shahnaz, yang juga pernah berkunjung ke salah satu lokasi Taman Bacaan Pelangi.

    Dan tidak hanya itu, setelah lebih-kurang 7 tahun mengurusi anak-anak yang gemar membaca ini, hasilnya pun terlihat nyata. Pepatah yang mengatakan buku adalah jendela dunia terbukti kebenarannya.

    “Dari semula mereka hanya berani bercita-cita menjadi guru atau pastor, karena itu dua profesi terbaik yang pernah ada di sana, kini ada jawaban cita-cita lain yang lebih beragam dari mereka, seperti menjadi dokter, pilot, tentara, hingga arkeolog,” kata Nila. Tahu dari mana mereka tentang ide tersebut kalau bukan dari membaca buku?

    Lalu, jika sebelumnya mereka mengira tinggal di Malaysia, karena tahunya hanya Upin dan Ipin yang ditonton ramai-ramai di satu rumah yang memiliki genset, kini mereka tahu bahwa tempat tinggal mereka adalah di Indonesia. Menakjubkan melihat bagaimana sebuah perubahan positif telah terjadi pada anak-anak bangsa.

    Pada akhirnya, Nila tidak ingin berjuang sendirian. Terbuka kesempatan bagi kita semua untuk ikut berkontribusi membantu menjadikan mimpi anak-anak semakin nyata. Dengan membeli satu buku Lembar-lembar Pelangi, Anda telah mendonasikan satu buku cerita anak untuk Taman Bacaan Pelangi dan membuka satu pintu mimpi untuk anak-anak Indonesia Timur.

    Berani memberikan dukungan nyata?

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Memilih Buku Cerita untuk Anak Berkebutuhan Khusus
    Tip agar Anak Mau Menceritakan Kegiatannya
    Bunda, Yuk, Latih Kemampuan Berbicara Si Kecil


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.