Cara Pertolongan Pertama pada Penderita Gangguan Jiwa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kesehatan/Berobat/Dokter/Perawat. triarc.co.za

    Ilustrasi kesehatan/Berobat/Dokter/Perawat. triarc.co.za

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika mendapati anggota keluarga yang terindikasi mengalami masalah kejiwaan, apa yang harus dilakukan?

    Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eva Viora menjelaskan cara memberikan pertolongan pertama pada penderita gangguan jiwa harus ditinjau berdasarkan tingkat keparahan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

    “Gangguan jiwa sangat beragam jenisnya, mulai dari yang ringan hingga akut, seperti skizofrenia. Informasi yang akurat dari pihak keluarga akan sangat membantu para tenaga ahli untuk melakukan diagnosis dan menentukan perawatan yang tepat bagi ODGJ,” katanya.

    Keluarga tidak perlu malu untuk memeriksakan anggotanya yang menunjukkan gejala-gejala gangguan jiwa. Justru, penanganan sedini mungkin berangsur-angsur akan mengembalikan kualitas hidup ODGJ sehingga mereka bisa kembali menjadi produktif dan mandiri.

    Sementara itu, Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Indonesia (Arsawakoi) Bambang Eko Sunaryanto berpendapat sulitnya menekan angka ODGJ dipicu oleh ketidakmerataan tenaga layanan kesehatan jiwa di Tanah Air.

    “Ditambah lagi, kurangnya peminat dan berpindah-pindahnya lokasi tugas para tenaga kesehatan jiwa justru seringkali memutus rantai akses perawatan dan pengobatan ODGJ yang memerlukan terapi jangka panjang,” tuturnya.

    Menurut Ketua Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Bagus Utomo, pemberdayaan keluarga untuk tindakan prefentif gangguan kejiwaan adalah cara paling efektif dalam menutup kesenjangan terhadap stigma negatif terhadap ODGJ dan keluarganya.

    “Keterbukaan dan pemahaman masyarakat terhadap anggota keluarga yang mengalami gejala gangguan jiwa adalah sinyal bagus bagi kami, selaku komunitas yang berhadapan langsung dengan stigma negatif terkait ODGJ dalam kegiatan kami sehari-hari,” jelasnya.

    Mudah-mudahan, setelah ini masyarakat tidak lagi mengucilkan dan mendiskreditkan permasalahan kesehatan jiwa dalam anggota keluarga. Sebaliknya, masyarakat harus menjadi sistem pendukung yang kuat untuk memartabatkan penderita gangguan kejiwaan.

    BISNIS

    Berita lainnya:
    Perawatan Batik agar Tetap Cantik
    |Perlukah Membersihkan Wajah di Pagi Hari?
    Hamil Anak Kembar, Jangan Tunggu Lahir di 39 Minggu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.