Dhini Hidayati, Perempuan yang Malu dengan IPK Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dhini Hidayati. TEMPO/Subekti

    Dhini Hidayati. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuliah kerja nyata di Pulau Miangas, Sulawesi Utara, menjadi titik balik bagi kehidupan Dhini Hidayati. Di salah satu pulau terluar Indonesia itu, ia menyadari dirinya tidak berarti apa-apa dibanding penduduk setempat, yang begitu mencintai Indonesia di tengah sulitnya mencari nafkah, listrik, dan air bersih.

    9 Muslimah Tajir

    Dhini Hidayati mengenang antusiasme masyarakat menyambut perayaan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus 2009. Bersama prajurit TNI, mereka dengan bersemangat mengikuti upacara bendera. “Saya malu dan menangisi diri sendiri yang sombong dengan IPK tinggi, tapi belum memberikan apa-apa untuk negeri ini,” kata alumnus Sastra Cina Universitas Indonesia ini.

    Pengalaman Dhini Hidayati, yang lahir di Bogor pada 2 Februari 1988, semakin kaya setelah pada tahun berikutnya menjadi asisten dosen. Ia mengikuti survei ke pojok-pojok timur Indonesia. Dhini Hidayati pergi ke Ambon, Morotai, dan Ternate—lagi-lagi di tempat yang minim pasokan listrik dan air bersih. “Tapi saya merasa hidup ini menjadi lengkap,” kata dia.

    Godaan datang lagi ketika Dhini Hidayati terpilih mengikuti program Indonesia Mengajar, gerakan yang dipelopori oleh Anies Baswedan, pada 2012. Ia ditugasi mengajar anak-anak di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau, selama setahun.

    Gara-gara Indonesia Mengajar pula Dhini Hidayati harus melepaskan pekerjaannya sebagai karyawan sebuah bank swasta yang diandalkan dalam studi kelayakan jembatan Selat Sunda. Seorang petinggi bank sempat ingin menahan Dhini Hidayati dengan tawaran kenaikan gaji tiga kali lipat ditambah melanjutkan pendidikan ke Texas, Amerika Serikat. Tapi semua tawaran itu ditampiknya.

    “Saya kangen dengan hal-hal seperti di Pulau Miangas dan wilayah Indonesia Timur lainnya,” kata perempuan berambut panjang ini. Pilihannya mengikuti program Indonesia Mengajar pun sebelumnya tak dikonsultasikan dengan kedua orang tuanya karena khawatir dilarang.

    Setelah mengabdi di Pulau Rupat, Dhini Hidayati kembali bekerja di bank swasta dengan jabatan business digital alliance manager. Di sela-sela kesibukannya, bersama Jessie Setiawan, ia menggodok konsep Gandengtangan.org. Jessie adalah teman yang dikenalnya dari jaringan Indonesia Mengajar dan alumnus SMA Negeri 8 Jakarta.

    Sampai akhirnya, pada Maret 2015, Dhini Hidayati dan Jessie meluncurkan perusahaan start-up Gandengtangan.org. “Ide awalnya dari Jessie, dan saya tidak ingin sekadar menjadi moderator,” kata Dhini, yang kini menjabat Chief Marketing Officer sekaligus Co-Founder Gandengtangan.

    Sebelum meluncurkan Gandengtangan, Dhini Hidayati dan Jessie membaca jurnal Emil Salim dan mencari data Bank Dunia tentang kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu data yang menggugah keduanya adalah temuan bahwa lebih dari 50 persen penduduk Indonesia hanya berpenghasilan US$ 2 per hari (Rp 26 ribu), dengan rata-rata satu keluarga terdiri atas lima anggota.

    Jumlah pendapatan itu, kata Dhini Hidayati, masih lebih kecil dibanding harga segelas kopi di kafe ternama. Maka gagasan mereka di Gandengtangan adalah mengajak orang memberikan pinjaman mulai dari Rp 50 ribu kepada masyarakat kecil yang hendak mengembangkan usaha mikro. “Angka ini realistis untuk orang mau membantu,” kata penerima penghargaan Young Netizen Awards Jakarta Marketing Week 2016 ini.

    Menurut Dhini Hidayati, wirausahawan kecil seringkali sulit mendapatkan bantuan dari bank, salah satunya karena alasan jaminan dan suku bunga kredit yang tinggi. “Tapi untuk usaha, donasi tidak cocok. Sebab, tujuan program ini adalah membuat pengusaha mandiri secara finansial,” kata anak sulung dari tiga bersaudara ini.

    Sebagai langkah awal, Dhini Hidayati menawarkan program ini ke teman, sahabat, keluarga, dan kerabat seraya mencari calon-calon peminjam dari kelompok usaha mikro. Tim Gandengtangan.org menyalurkan pinjaman kepada pengusaha yang terpilih atau ikut berpartisipasi dalam proyek yang sedang digarap oleh British Council, Unlimited Indonesia, Yayasan Kehati, dan Asoka Foundation.

    Selama enam bulan terakhir, kegiatan mereka dibantu oleh Yayasan Baitulmal Wal Tamwil, yang berperan memverifikasi calon peminjam. Bantuan ini mempermudah kerja para penggerak Gandengtangan.org, yang hanya berjumlah empat orang. Selain Jessie dan Dhini, ada Nur Roni Dinurohman, yang menjabat Chief Technology Officer, dan Edwin sebagai Chief Financial Officer.

    Hingga kini, Gandengtangan sudah mengumpulkan dana sekitar Rp 400 juta dari 600 orang pemberi pinjaman, yang dipakai untuk mendanai 18 usaha mikro. Dari jumlah tersebut, secara langsung dan tidak langsung, 500 orang sudah mendapatkan manfaat pinjaman tanpa bunga.

    Dari hasil kerja sama dengan Baitulmal, Gandengtangan sudah membantu mikrobisnis di Yogyakarta dan Jawa Barat. “Masih tergolong lambat,” dia mengakui. Ke depan, Dhini Hidayati berencana memperbarui model bisnis dan mendesain ulang situs web Gandengtangan dengan menambah fitur-fitur baru.

    MARTHA WARTA SILABAN

    Berita lainnya:
    Minum Pakai Sedotan, Bikin Wajah Cepat Tua
    Diam Dua Menit, Nikmati Ketenangan dan Rasakan
    Anak Ikut Ajang Pencarian Bakat, Dukungan Atau Eksploitasi?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).