Peran Orang Tua agar Anak Tidak Melakukan Cyber Bullying

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bermain sosial media di ponsel. Shutterstock.com

    Ilustrasi bermain sosial media di ponsel. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivitas remaja masa kini di media sosial seringkali membuat kita syok dan geleng-geleng kepala.

    Bukan karena kita merasa terpukau karena mereka berprestasi, melainkan karena sikap mereka yang menjurus ke arah kekerasan, lebih tepatnya cyber bullying atau perundungan.

    Salah satu penyebab utama remaja bertingkah laku seperti itu karena mereka belum punya kemampuan penuh untuk mengambil tindakan tepat dan dengan pertimbangan matang antara rasio dan emosi.

    Perihal mengapa lewat media sosial, itu hanyalah sebagai satu media terbaru. Lagi-lagi, ketidakmatangan rasio ikut memengaruhi bagaimana remaja memperlakukan teknologi.

    Tidak ada ciri-ciri yang pasti, tapi pelaku perundungan biasanya adalah seseorang yang sudah terbiasa dengan kekerasan, memiliki kesulitan mengendalikan amarah, manipulatif atau terbiasa mengontrol orang lain dan situasi, cepat menyalahkan orang lain, tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka, memiliki kebutuhan tinggi untuk menang atau menjadi yang terbaik dalam segala hal, atau pencari perhatian tingkat tinggi.

    Jika tidak segera diatasi, perilaku perundungan akan menjadi kebiasaan. Tidak menutup kemungkinan menjadi karakter yang menetap hingga mereka dewasa. Karena tidak dipungkiri, melakukan bullying dapat memberi “kesenangan”.

    Ketika anak berada dalam posisi pelaku pun, orang-orang di sekitar pelaku, terutama orang tua, harus mencari solusinya, diantaranya seperti berikut ini:

    - Terapkan disiplin positif di rumah
    Fokuslah pada pemberian penghargaan ketika mereka melakukan hal yang positif, bukan pada pemberian hukuman ketika mereka salah.

    - Lebih banyak luangkan waktu bersama
    Jangan berpaku pada kuantitas, melainkan kualitas kebersamaan. Misalnya, sebelum tidur biasakan ada sesi berkumpul bersama di teras rumah.

    - Awasi pergaulan sosial mereka
    Menjadi teman mereka di media sosial, mengapa tidak? Namun, mainkan dengan cantik agar mereka merasa sedang berteman dengan Anda, bukan sedang diawasi.

    - Kenali dan bantu mereka mengembangkan minat dan bakat
    Dengan fokus pada hal lain yang mereka sukai, dunia mereka tidak akan dipenuhi urusan yang tidak penting.

    - Beri penghargaan terhadap apa yang mereka lakukan, sekecil apa pun langkahnya
    Jika mereka melakukan satu kebaikan, jangan luput dari perhatian Anda. Berikan respek.

    - Kurangi paparan kekerasan dari televisi atau game
    Sebagai orang tua, kontrol terbesar tetap di tangan Anda. Atur jenis tontonan atau game yang boleh mereka miliki di rumah. Walau hanya di rumah, masih jauh lebih baik ketimbang tidak sama sekali.

    - Beri contoh bagaimana mengatasi rasa marah
    Jika orang tua saja berperilaku emosional, bagaimana anak akan memiliki panutan yang baik?

    - Ajari mereka cara untuk meminta maaf
    Terkesan sepele, tapi dampaknya amat besar ketika mereka bisa atau bahkan terbiasa untuk berani meminta maaf. Pengendalian emosi akan terlatih, bonus kerendahan hati.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Bahaya Olahraga Berlebihan bagi Jantung
    7 Persoalan yang Sering Memicu Masalah Mental
    Kerja di Kantor Bikin Berat Badan Naik? Belum Tentu


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?