Rutin Ganti Spons Mandi Agar Tidak Jadi Sarang Bakteri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mandi. shutterstock.com

    Ilustrasi mandi. shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Kebanyakan wanita menggunakan spons mandi atau loofah karena lebih praktis dan tak perlu repot mengusap sabun hingga berbusa. Meskipun membuat tubuh lebih segar, apakah mandi dengan spons membuat tubuh lebih bersih?

    Pemulih Stamina Pasca-Keguguran

    Jawabannya bergantung pada seberapa sering Anda mengganti spons tersebut. Para ahli menyarankan mengganti spons mandi setiap tiga minggu sekali, terutama jika spons berubah warna atau menimbulkan bau tidak sedap. Sebab, berdasarkan penelitian, spons mandi yang terbuat dari serat timun menjadi tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri, seperti dilansir laman Bustle. Patogen atau bakteri flora pada spons bisa berpindah ke kulit dan menyebabkan infeksi.

    Tidak hanya itu, sel kulit mati Anda bisa tersangkut pada bagian sudut dan lipatan spons. Bakteri pada spons pun akan berkembang dengan mengkonsumsi organisme yang tersangkut di dalam spons. Bakteri semakin berkembang akibat lingkungan yang lembap.

    Sayangnya, menggunakan cairan mandi antibakterial atau membilas spons dengan air tidak akan mematikan bakteri tersebut. Bahkan para ahli kurang menyetujui penggunaan spons untuk mandi. "Anda menyebarkan bakteri yang telah Anda buang sebelumnya setiap kali mandi," ujar dokter kulit, Dr Michael Green.

    Untuk itu, Anda disarankan mengganti spons setidaknya tiga minggu sekali atau mengurangi jumlah bakteri pada spons dengan mengeringkan spons di luar kamar mandi. Masukkan spons mandi atau loofah ke dalam microwave selama 20 detik (tapi hanya loofah dan spons dari bahan alami, bukan dari bahan plastik), atau rendam spons dengan cairan pemutih 5 persen untuk mengurangi jumlah bakteri.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:
    10 Varian Infused Water yang Wajib Dicoba, Segar!
    Kandungan Minyak Sawit yang Bermanfaat buat Tubuh
    Ibu Bertubuh Gemuk, Anak Berpotensi Terkena Obesitas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.