Mana Lebih Aman, Memencet Jerawat atau Minum Antibiotik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita kesal dengan jerawat. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita kesal dengan jerawat. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggunaan antibiotik memang sudah jamak dilakukan untuk mengatasi jerawat. Bahkan sudah menjadi terapi standar internasional. Selain di Indonesia, cara ini juga digunakan di Amerika Serikat, Malaysia, dan Kanada. Obat antibiotik diberikan untuk membasmi Propionibacterium acnes, bakteri penyebab jerawat.

    Detoksifikasi Hati

    Obat diberikan selama 6-8 pekan, maksimal 12-18 pekan. Pengobatannya dikombinasi dengan obat retinoid topikal untuk membuka pori-pori kulit yang tersumbat. Ada juga benzoil peroksida, yang berfungsi membunuh bakteri, mengurangi inflamasi, serta membantu membuka pori-pori kulit yang tertutup.

    Masalahnya, antibiotik akan memicu kekebalan pada kuman. “Karena pemakaiannya lama, kemungkinan resistansi antibiotik tetap ada,” kata dokter spesialis kulit dan kelamin Irma Bernadette Sitohang. Apalagi jika pasien menggunakan obat tersebut tanpa rekomendasi dokter. Penelitian yang dilakukan di Prancis, Jerman, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris menunjukkan bahwa 73 bakteri jerawat kebal terhadap antibiotik.

    Untuk itulah Irma meneliti cara lain mengobati jerawat. Penelitian yang dituangkan menjadi disertasi itu menunjukkan bahwa pembedahan menggunakan ekstraktor komedo bisa menghilangkan peluang resistan kuman tersebut. Alat yang digunakan berbentuk besi kecil untuk mengeluarkan komedo.

    Caranya, jerawat ditekan ringan dengan ekstraktor, sehingga isi kelenjar minyak yang tersumbat (sebum) keluar. Pengeluaran ini membuat kulit mendapat oksigen kembali. “Selain itu juga membuat kuman yang menimbulkan jerawat berkurang,” kata anggota staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM ini.

    Irma membandingkan kecepatan kerja ekstraksi komedo tersebut dengan antibiotik. Hasilnya, ekstraksi komedo membuat jerawat hilang dalam beberapa pekan, sama dengan terapi antibiotik. Bedanya, mereka yang diterapi elektrasi tak akan merasakan efek samping seperti halnya dalam penggunaan antibiotik. Efek samping itu adalah mual, muntah, dan rasa tak nyaman di perut. “Jadi pemakaian ekstraktor komedo ini lebih baik daripada antibiotik oral.”

    Tapi tentu tak sembarang orang bisa menggunakan ekstraktor, meski alatnya gampang diperoleh. Hanya dokter spesialis kulit dan kelamin yang bisa. Selain karena mereka lebih ahli, biasanya pasien juga diberi obat tretinoin untuk mengatasi jaringan parut.

    Guru besar ilmu kesehatan kulit dan kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Retno Widowati Soebaryo, mengatakan cara pemencetan jerawat dengan ekstraktor komedo aman, murah, dan mudah. Cara ini juga bisa mencegah bertambahnya bakteri yang resistan. Kalau tak dicegah, bakteri ini akan berkembang biak sehingga berbahaya bagi kesehatan. “Bayangkan apabila seluruh wajah jadi penuh dengan nanah,” katanya.

    NUR ALFIYAH

    Berita lainnya:
    Padanan Buasana Buat Sepatu Menyala
    Pernah Coba Lari Mundur, Bagaimana Rasanya?
    Kiat Mengatasi Rasa Kangen Rumah saat Bepergian


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.