Mencuri Perhatian dengan Kerlap-kerlip Glowing Shoes

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepatu LED kontingen Inggris pada penutupan Olimpiade Brasil 2016 lalu. REUTERS/Stefan Wermuth

    Sepatu LED kontingen Inggris pada penutupan Olimpiade Brasil 2016 lalu. REUTERS/Stefan Wermuth

    TEMPO.CO, Jakarta - Berjalan-jalan dengan lampu kerlap-kerlip di sepatu bukan lagi gaya anak balita. Remaja dan orang dewasa pun seperti berlomba-lomba memamerkan warna-warni lampu di kasutnya. Seperti tidak mau ketinggalan, selebritas seperti Tyas Mirasih dan Gisella Anastasia juga memamerkan sepatu anyar tersebut di akun media sosial mereka.

    Chemistry Hubungan

    Pernah populer pada awal 1990-an, sepatu yang di bagian solnya bisa memancarkan pendar berwarna-warni itu kini lagi naik daun. Penyanyi Inggris, Zayn Malik, menjadi salah seorang pelopornya lewat klip video Like I Would pada Mei lalu. Di tayangan bertema futuristik tersebut, Malik, 23 tahun, mengenakan sneakers Nike dengan logo dan sol menyala.

    “Tren sepatu LED adalah twist dari booming sneakers dalam tiga tahun belakangan,” kata pengamat fashion, Denny Gusri, kepada Tempo. LED mengacu pada light-emitting diode, jenis lampu hemat energi. Menurut dia, tren sneakers relatif stabil selama kurun waktu tersebut. Di lain sisi, produsen terus memutar otak agar pamor sneakers sebagai salah satu penanda busana anak muda tak redup.

    Banyak produsen sepatu bonafide, Denny melanjutkan, menggandeng desainer untuk merancang sneakers yang kece. Kolaborasi itu menghasilkan beragam model sneakers yang tak sekadar tampil sporty, tapi juga bergaya. “Sepatu LED merupakan salah satu bentuk inovasi sneakers,” ujarnya. Istilahnya, glowing shoes atau light up shoes.

    Denny menambahkan, masuknya tren sneakers LED di Indonesia tak terlepas dari pengaruh Korea Selatan dan Jepang. Budaya populer dengan segala inovasi gaya busana yang berkembang di dua negara itu, dia berujar, melambungkan popularitas sepatu LED, termasuk ke Indonesia. “Budaya pop dengan fashion itu ibarat mur bertemu baut, cocok,” kata Denny.

    Soal sepatu LED yang bergeser pemakai dari anak-anak pada 1990-an menjadi muda-mudi, Denny menyebutkan itu merupakan bagian dari kekuatan tren. Remaja, kata dia, adalah penggerak tren yang melambungkan popularitas sepatu LED. Semakin banyak yang memakai, semakin cepat persebaran tren itu.

    Mencari sepatu LED pun tak sulit. Banyak situs web belanja online yang sudah memasukkan kasut berlampu ini dalam daftar belanja. Harganya bervariasi antara Rp 300-800 ribu.

    Namun, belanja sepatu, termasuk sepatu LED, tak boleh abai akan kenyamanannya. Ilmuwan di Harvard Medical School, Amerika Serikat, menganjurkan sepatu yang baik ditunjang dengan sol yang kuat dan empuk. Satu-satunya cara mengujinya ialah mengenakannya untuk berjalan kaki saat di toko atau sesaat setelah menerimanya dari toko online.

    FOOTWEAR NEWS | HARVARD.EDU | RAYMUNDUS RIKANG

    Berita lainnya:
    Strategi agar Kerja dan Kuliah Berjalan Mulus
    10 Tanda Teman Pria Jatuh Cinta Pada Anda
    Lapar Berat Lalu Makan Yoghurt dan 7 Kudapan yang Keliru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.