Pelajaran Mendidik Bercermin dari Artis Cilik yang Gagal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Macaulay Culkin terlihat bahagia dengan sampah, seperti puntung rokok, botol minuman, yang berserakan di apatemennya di New York (1/2). bullet agazine/dailymail.co.uk

    Macaulay Culkin terlihat bahagia dengan sampah, seperti puntung rokok, botol minuman, yang berserakan di apatemennya di New York (1/2). bullet agazine/dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebanyakan artis cilik dengan segudang prestasi dan pernah menginspirasi banyak anak lain, tiba-tiba berubah menjadi remaja atau orang dewasa bermasalah dan lekat dengan pemberitaan miring. Fenomena itu begitu jamak; tidak hanya di kalangan pesohor Indonesia, tapi juga dunia. Seperti Macaulay Culkin, Justin Bieber, Amanda Bynes, Britney Spears, Shia LaBeouf, Lindsay Lohan, atau Miley Cyrus.

    Sebenarnya kasus anak yang tumbuh menjadi remaja nakal tidak hanya rentan dialami artis cilik, tapi pada semua anak yang terpaksa atau dipaksa bekerja sejak kecil. Kehilangan periode bermain saat usia sekolah dasar bisa berakibat fatal bagi tumbuh kembang anak.

    Banyak orang tua masa kini yang beranggapan anak harus bisa mandiri sejak dini. Anggapan tersebut tidak salah, tapi mendidik anak untuk mandiri bukan berarti mengajarkan mereka untuk bekerja mencari nafkah sejak kecil.

    Di Indonesia, kebanyakan anak terpaksa bekerja karena dituntut menopang keluarganya yang kurang mampu. Di negara-negara yang sudah lebih maju, seperti Amerika Serikat, anak-anak digembleng untuk mandiri dengan mencari pekerjaan sendiri sejak kecil.

    Namun, ilmuwan perilaku manusia dari Rand Corp. Rajeev Ramchand menggarisbawahi adanya potensi laten seorang anak yang terbiasa bekerja sejak kecil untuk tumbuh menjadi remaja pembangkang, rentan terjerumus alkohol, narkoba, perokok, dan gemar berkelahi.

    “Kami paham bahwa bekerja memang bisa menimbulkan hal positif, tapi jangan lupa bahwa saat anak-anak bekerja, mereka lebih rentan terpapar hal-hal yang lebih buruk,” kata Rajeev seperti dikutip dari Reuters.

    Dalam penelitian yang tercatat di American Journal of Preventive Medicine tentang kaitan beban kerja pada anak terhadap perilaku negatif mereka semasa remaja atau dewasa, dia menyurvei 5.147 anak setingkat kelas 5 sekolah dasar dan orang tuanya di Birmingham, Los Angeles, dan Houston. Riset dilakukan selama 2004-2006 dan didapati fakta bahwa sekitar 1 dari 5 anak yang diteliti mengaku memiliki pekerjaan sampingan.

    Hasilnya, anak-anak yang bekerja dua kali lipat memiliki kecenderungan menjadi alkoholik ketimbang temannya yang tidak bekerja. Mereka juga tiga kali lipat lebih leluasa terpapar penyalahgunaan ganja, rokok, dan terserempet masalah hukum. Selain itu, anak-anak yang bekerja sejak kecil 1,5 kali lipat lebih cenderung terlibat perkelahian, dan kali kali lipat lebih sering terlibat kasus permasalahan keluarga hingga kabur dari rumah.

    Rajeev berpendapat fenomena ‘good kids gone bad’ (anak baik-baik menjadi nakal) disebabkan karena orang tua mereka melonggarkan pengawasan saat mereka bekerja. Mereka tidak tahu apa yang dilakukan anak-anaknya ketika bekerja.

    Ketimbang memaksakan anak untuk mencari uang sejak dini, orang tua seharusnya lebih terbebani untuk mendidik buah hatinya menjadi generasi yang bermoral, berkarakter, dan bertanggung jawab. Kehilangan masa bermain saat anak-anak akan memengaruhi keseimbangan psikis seseorang ketika beranjak dewasa. Apalagi, jika periode kritis tersebut luput dari atensi orang tuanya.

    BISNIS

    Berita lainnya:
    Trik Make up Singkat untuk Mahasiswi
    Manis-Gurih, Model dan Tekwan Khas Palembang
    Tren Fashion yang Awet Sepanjang Masa: Gaya Monokrom


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.