Saran Psikolog dalam Melawan Stigma terhadap Janda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita menangisi foto mantan kekasihnya. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita menangisi foto mantan kekasihnya. shutterstock.com

    TEMPO.COJakarta - Menjadi janda karena cerai atau suami meninggal sama risikonya karena akan menjadi bahan gunjingan orang lain. Ketika seseorang berstatus janda, dia dianggap lebih mudah menggoda atau digaet laki-laki. 

    Sebab, asumsi yang berkembang selama ini adalah perempuan dinilai lemah, butuh perlindungan, dan kasih sayang. Terlebih jika janda ini sudah memiliki anak. Itu semakin membuatnya “berdaya tarik”. Ada kebutuhan yang tak terpenuhi ketika tiada lelaki di sisinya. 

    “Sekali lagi, ini asumsi. Kenyataannya bisa jadi sangat berbeda,” kata Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Konsultasi Psikologi Westaria. Padahal, di luar sana, dia melanjutkan, banyak perempuan cerdas dan berprestasi yang mampu memenuhi kebutuhan materi untuk diri sendiri dan anaknya.

    Masalahnya, Anggia menjelaskan, asumsi yang negatif terhadap janda tadi telah merebak sejak lama. "Sehingga seakan-akan menjadi benar," ujarnya. Akibatnya, muncul lagi stigma bahwa janda juga bisa saja jatuh hati dengan lelaki yang lebih muda alias berondong atau mau saja digombali lelaki hidung belang.

    Jika para janda ini tidak segera bangkit, berpikir, dan bertindak cerdas, terpuruk dalam kesedihan, ketidaksiapan menjaga diri dan anak-anak, dan juga terkait dengan pemenuhan kebutuhan materi, akan menjadi sinyal yang bisa dimanfaatkan laki-laki. “Apa pun cerita yang melatari status janda, tentu dia harus mempersiapkan langkah selanjutnya,” ujar Anggia.

    Percaya bahwa takdir datangnya dari Tuhan. Karena itu, ada beberapa hal yang bisa menjadi alasan menjanda adalah takdir yang baik. Misalnya, ketika ternyata pasangan yang kita nikahi bukanlah orang yang baik sebagai pasangan hidup, seperti berperilaku kasar, berselingkuh, dan lebih banyak memberi pedih ketimbang bahagia, cerai dan menjanda tentu lebih baik.

    Menguji kemandirian juga merupakan hikmah dari status janda. Sebab, ketergantungan kepada suamilah yang biasanya memunculkan stigma negatif, seperti buru-buru ingin menikah lagi. "Tapi bukan berarti Anda yang sudah menjanda menutup diri," tutur Anggia. "Anda hanya perlu introspeksi, libatkan dan mintalah dukungan anak-anak, juga keluarga." 

    Selain itu, para janda perlu meningkatkan kualitas diri karena Anda harus lebih cerdas dari sebelumnya. Cerdas secara emosi, cerdas secara sosial, dan terutama cerdas secara spiritual. Jika kiri-kanan Anda masih saja berkomentar miring, padahal Anda sudah melakukan yang terbaik, ikhlaskan. Jadikan motivasi untuk tetap menjadi benar dan sesuatu yang tetap membuat kita waspada.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    Rahasia Diet Petenis Ana Ivanovic
    10 Cara Elegan untuk `Mengambil Hati` Dosen
    Talas Sahabat Kesehatan, tapi Jangan Dimakan Berlebihan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.