Posisi Tidur yang Tepat untuk Membersihkan Limbah Otak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto: indianasleep.com

    Foto: indianasleep.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kualitas tidur di malam hari mempengaruhi kesehatan seseorang. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata posisi tidur juga mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Posisi tidur terlentang, tengkurap atau miring dapat mempengaruhi kesehatan otak dan bahkan kepribadian kita.

    Sebagaimana dilansir oleh laman metro.co.uk, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam The Journal of Neuroscience menemukan bahwa tidur miring memungkinkan otak kita untuk mengosongkan diri dari limbah, yang mengurangi risiko pengembangan penyakit saraf seperti Alzheimer.

    Pada dasarnya kita bisa berganti posisi tidur di malam hari dan sulit untuk merekam postur saat tidur. Namun, berhati-hatilah untuk memposisikan tubuh di sisi sehingga tulang belakang dan leher didukung dapat menjadi kunci untuk tidur malam yang baik, sedikit cedera, dan kesehatan secara keseluruhan baik.

    Dr Helene Benveniste dan timnya di Universitas Stony Brook melihat model tikus untuk bagaimana jalur glymphatic bersama yang cairan serebrospinal (CSF) menyaring melalui otak dan pertukaran dengan cairan interstitial (ISF) untuk membersihkan sampah -bekerja selama tidur.

    Protein yang negatif dapat mempengaruhi proses otak yang dapat menyebabkan perubahan kepribadian Anda serta kesehatan secara keseluruhan.

    Tim peneliti menjelaskan bahwa sejumlah gangguan neurologis terkait dengan gangguan tidur. Jika limbah otak tidak dihilangkan secara efektif, kehilangan memori dapat dipercepat dan penyakit seperti Alzheimer dapat menjadi lebih mungkin untuk berkembang.

    TABLOIDBINTANG

    Berita lainnya:
    7 Fakta Unik tentang Tidur
    Berapa Lama Waktu Tidur yang Benar?
    Cobalah Tidur tanpa Busana Malam Ini, dan Rasakan Manfaatnya

     


     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).