Stres, Bermainlah dengan Kucing di Cuties Cats Cafe Kemang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kafe kucing, The Cutie Cats Cafe, di Kemang, Jakarta. TEMPO/Frannoto

    Kafe kucing, The Cutie Cats Cafe, di Kemang, Jakarta. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.COJakarta - Kemang, "rumah" bagi anak gaul Jakarta sejak 1990-an, kini punya gacoan baru: kafe kucing. Ini adalah tempat penggemar kucing bisa ngopi sambil bermain dengan meong yang tinggal di kafe tersebut. Pertama kali buka di Taiwan pada 1998, cats cafe kemudian menjamur di Jepang pada pertengahan 2000-an, sebelum akhirnya menyebar ke Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Di Kemang, dua kafe kucing dibuka pada Februari 2015.

    "Ini menjadi fenomena karena banyak pencinta kucing yang tidak dapat memelihara mereka," ujar Michael Kurtz, pendiri Cutie Cats Cafe. "Biasanya karena tinggal di apartemen yang melarang hewan peliharaan."

    Pria 48 tahun asal Jerman itu membuka Cutie di Jalan Kemang I pada 12 Februari 2015. Di ruangan persegi empat itu, pengunjung akan dikelilingi 15 Felis catus—nama ilmiah kucing—yang kebanyakan ras Himalaya. Ada juga Argo, si kucing Bengal, yang tidak berhenti hilir-mudik seolah memamerkan bulu keemasannya yang bertotol-totol menyerupai macan tutul. "Semula, mereka semua tinggal di rumah kami," kata Lia Mutiara, 35 tahun, istri Michael, yang sebelumnya tinggal bersama 31 kucing di kediaman mereka di Kemang.

    Satu jam di Cutie, kami membuktikan hasil penelitian yang menyatakan bahwa bermain dengan kucing, atau hewan peliharaan lain, bisa mengurangi stres. Melihat makhluk-makhluk bermuka menggemaskan itu tidur saja, endorfin—hormon kebahagiaan—serasa terdongkrak. Apalagi bermain bersama dan mengelus bulu mereka yang sehalus kapas.

    Supaya kenyamanan kucing-kucing itu tidak terganggu, Michael dan Lia menetapkan batas maksimal pengunjung 20 orang dalam satu waktu. Namun batas itu agaknya perlu direvisi. Sebab, tamu sebanyak itu dalam ruangan 40 meter persegi—seperlimanya merupakan area rumah kucing—terasa penuh sesak, seperti saat Tempo berkunjung malam itu.

    Untuk melindungi binatang piaraannya, Michael dan Lia tidak menyediakan makanan selain kue manis. "Makanan manusia, terutama yang mengandung garam dan merica, tidak baik untuk pencernaan kucing," tutur Lia, anggota Indonesia Cat Association.

    Kafe yang dibuka pada pukul 10.00-21.00 ini menyajikan minuman dalam wadah tertutup dengan ruangan bebas bau. Selain itu, pengunjung dapat membaca dan menonton siaran tentang kucing.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Skyloft, Tempat Nikmati Macet Jakarta dari 'Langit'
    Namanya Sushi, Isinya Asli Makanan Indonesia
    Chick 'n Roll, Sensasi Ayam Goreng Enam Rasa 



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.