Kenali Kebiasaan Baru Anak Setelah Bersekolah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tidak konsentrasi saat belajar. shutterstock.com

    Ilustrasi anak tidak konsentrasi saat belajar. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak mempelajari banyak hal di sekolah. Bukan hanya mata pelajaran umum, seperti matematika, sejarah, dan bahasa namun juga mengasah keterampilan, kemandirian, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan teman-temannya.

    Aktivitas anak di sekolah berarti membangun rutinitas baru bagi mereka. Misalnya, anak yang semula bangun siang, kini harus bangun pagi karena berangkat sekolah di pagi hari, belum lagi pekerjaan rumah yang memotong waktu bermain mereka. Berikut ini kebiasaan baru yang muncul pada anak yang memasuki dunia sekolah dan cara mengarahkannya seperti dilansir laman Popsugar:

    1. Kurang konsentrasi
    Ketika guru mengajarkan anak dengan topik yang kurang mereka sukai, maka anak cenderung akan melamun. Jika terus dibiarkan, maka kurang fokus yang berkelanjutan akan menjadi masalah bagi anak di kemudian hari. Untuk meningkatkan konsentrasi anak di dalam maupun luar sekolah, beri mereka aktivitas yang dapat meningkatkan kemampuan mendengar secara aktif dan mengikuti perintah.

    2. Jajan sembarangan
    Ketika di sekolah anak akan sulit memilih makanan dengan nutrisi yang baik. Makanan kemasan dan makanan yang banyak mengandung gula sering menjadi pilihan. Membawakan bekal makanan saja mungkin tak cukup untuk menghilangkan godaan untuk jajan.

    Kendati tetap memberikan uang jajan, sebaiknya Anda memberitahu anak tentang pentingnya makanan bergizi. Anak tentu akan senang bila Anda memberinya kepercayaan untuk memilih membelanjakan uang saku untuk jajan di sekolah atau menabung uang tersebut.

    3. Tidak cuci tangan
    Anda harus sering mengingatkan agar anak mencuci tangan saat hendak makan, keluar dari kamar mandi, dan setelah bermain. Jelaskan kepada anak pentingnya menjaga kebersihan. Patut dipertimbangkan membekali anak dengan hand sanitizer supaya tidak terlalu sering keluar kelas untuk mencuci tangan.

    4. Main gadget
    Anak tetap menjaga interaksi dengan teman-temannya di luar sekolah melalui gadget. Bahkan saat di rumah, secara terang-terangan atau bersembunyi mereka tetap ‘lengket’ dengan gadget. Walhasil, momentum bercengkrama di rumah dengan orang tua dan kakak atau adik hilang begitu saja. Sebaiknya Anda membuat aturan dilarang berinteraksi dengan gadget selama di meja makan dan pada waktu tertentu yang telah ditetapkan. Andapun harus mematuhi aturan ini.

    5. Membantah dan bicara kasar
    Jika anak berkata dengan suara keras saat bermain dengan teman di sekolah, mungkin itu hal yang biasa. Namun bagaimana jika tindakan ini dilakukan terhadap guru? Tentu tidak pantas. Beri pemahaman kepada anak seperti apa perilaku yang santun dan beri tahu kata-kata apa saja yang tak boleh terucap. Pastikan juga Anda sebagai orang tua menggunakan kosakata yang baik.


    6. Tas terlalu berat

    Jangan biarkan anak membawa tas berisi perlengkapan sekolah lengkap. Ajarkan mereka untuk mengecek jadwal pelajaran dan cara mengepak peralatan belajar di dalam tas sesuai jadwal. Hindari membawa buku dan perlengkapan yang tidak perlu.

    7. Bergosip dan bersikap eksklusif
    Adalah hal yang normal bila anak-anak mengobrol dengan temannya. Orang tua perlu memberitahukan anak bahwa tidak baik membicarakan orang lain, apalagi keburukannya. Dari situ, anak mulai pilih-pilih teman dan membuat atau bergabung dalam kelompok sendiri. Dalam hal ini, anak membutuhkan orang tua untuk membimbing mereka tentang bagaimana bersikap terbuka dan berempati kepada orang lain.

    8. Semakin manja
    Jika anak merasa tugas sekolahnya terlalu berat, dia langsung meminta bantuan orang dewasa di sekitarnya. Apabila orang tua segera memberikan apa saja yang dibutuhkan anak dan melibatkan diri ke dalam tugas mereka, bisa jadi anak semakin manja. Tanpa disadari hal ini membuat anak kurang inisiatif dan selalu bergantung kepada Anda. Beri anak kesempatan untuk menyelesaikan tugas mereka sendiri tanpa campur tangan orang lain.

    9. Begadang
    Anak tidur larut malam,dengan alasan mengerjakan tugas sekolah. Di saat tidak ada tugas anak telah terbiasa tidur larut. Agar anak tidak selalu tidur larut malam, ajari anak untuk belajar manajemen waktu, membuat jadwal dan daftar apa yang harus dikerjakan.

    POPSUGAR | DINA ANDRIANI

    Berita lainnya:
    Agar Anak Bijak Mengelola Uang Saku
    5 Benda Wanita yang Tercipta untuk Pria
    10 Benda di Rumah yang Dipercaya Membawa Sial


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.