Tip Menyaring Pengaruh Negatif Media Sosial pada Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. torontosun.com

    Ilustrasi. torontosun.com

    TEMPO.COJakarta - Psikolog Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Anna Surti Ariani mengatakan perilaku remaja yang gandrung terhadap media sosial bisa jadi merupakan salah satu bentuk pembangkangan yang lazim dilakukan pada masa remaja. "Mereka mengekspresikan apa yang dirasakan di media sosial,” katanya.

    Anna mengungkapkan, remaja yang sukarela memamerkan semua tingkah dan percakapan yang vulgar di akun media sosial jumlahnya tak sedikit. Selain sebagai bentuk ekspresi diri, langkah itu bisa dilakukan karena meniru atau merupakan imitasi dari pegiat media sosial yang lain.

    Sebab, remaja adalah fase saat seseorang mencari dan membentuk identitas lewat pergaulan. Salah satunya dengan mengikuti perilaku idola, termasuk di media sosial. Imitasi perilaku, kata Anna, cenderung dilakukan remaja. Apalagi bila tindakan itu berpeluang membuat mereka populer.

    Celakanya, aksi meniru itu bisa saja dilakukan dengan tindakan atau perkataan lebih kasar dibanding yang dilakukan sosok idola di media sosial. “Karena mereka sekadar meniru tanpa memikirkan dampaknya,” ujar Anna.

    Karena itu, dia menyarankan orang tua lebih peka melihat perkembangan anak-anak, khususnya saat mereka menginjak fase remaja. Diskusi, Anna menjelaskan, adalah langkah terbaik untuk mencegah anak-anak meniru aksi vulgar yang kerap mereka tonton di media sosial.

    Berikut ini tip Anna untuk membentengi anak dari pengaruh negatif di media sosial.

    1. Bangun relasi yang hangat dengan anak
    Remaja adalah kelompok umur yang paling sulit didekati orang tua. Mereka ingin merdeka dari orang tua. Salah satu cara membangun relasi yang hangat ialah mengajak mereka dalam berbagai kegiatan yang menantang.

    2. Cari tahu cara pengasuhan remaja
    Pengasuhan remaja berbeda dengan anak-anak. Remaja tak bisa lagi dinasihati. Mereka mesti diajak berdiskusi. Dengan berdialog, orang tua bisa mengetahui sumber kegelisahan remaja. Di sisi lain, remaja dapat belajar mengartikulasikan perasaan dan pikirannya kepada orang tua.

    3. Jangan gagap teknologi
    Remaja generasi milenial mengandalkan media sosial sebagai referensi berperilaku. Tak ada salahnya orang tua juga membuat akun media sosial untuk mengetahui lingkaran pertemanan anak-anaknya.

    4. Tahan emosi ketika anak mulai berulah
    Perilaku kasar dan vulgar yang ditunjukkan anak remaja acap direspons dengan kemarahan orang tua. Di sini, kesabaran orang tua menjadi kunci agar tingkah itu tak makin berkembang.

    5. Kenali teman-temannya
    Ajak teman-teman si buah hati ke rumah. Cara ini cukup efektif untuk memetakan pergaulan dan kemungkinan perilaku yang ditiru anak.

    RAYMUNDUS RIKANG

    Berita lainnya:
    Tampil Modis di Kantor untuk Perempuan Berhijab
    Cara Sederhana Kembalikan Baju Kisut ke Bentuk Semula
    Pentingnya Diet dan Olahraga dalam Menurunkan Berat Badan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.