Baby Blues Syndrome Membahayakan Ibu dan Bayi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi tidur bersama ibunya. dailymail.co.uk

    Ilustrasi bayi tidur bersama ibunya. dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Rasa sedih akibat depresi setelah melahirkan biasa disebut baby blues syndrome. Jika kondisinya semakin buruk, bisa meningkat menjadi postpartum depression syndrome, yaitu perasaan sedih dan gundah--terkadang tanpa sebab--para ibu muda yang baru saja melahirkan. Sindrom ini biasanya dialami di masa 14 hari pasca-melahirkan.

    Sindrom ini terjadi karena tubuh sedang mengadakan perubahan fisik setelah melahirkan. Hormon-hormon dalam tubuh juga akan mengalami perubahan besar. Apalagi para ibu muda ini letih karena baru saja melalui proses persalinan yang melelahkan. "Ini gejala penyakit kejiwaan kompleks yang tidak berdiri sendiri," kata Noroyono Wibowo, dokter spesialis kandungan.

    Ia menyebutkan, perasaan ini lebih banyak muncul pada ibu muda yang kurang memahami arti kehamilan dan memiliki seorang anak. Kondisi ini diperparah oleh kurangnya asupan nutrisi yang cukup saat hamil. Plus suami dan keluarga yang tidak banyak menyokong kehamilan secara psikologis kepada si ibu.

    "Keluarga harus mendukung kehamilan, dengan tidak memberi tanggapan negatif saat ada perubahan fisik di ibu hamil," katanya. Komentar miring dari suami tentang kondisi ibu hamil sangat berpengaruh. Komentar seperti "Kamu terlihat gendut" atau "Kamu tidak cantik saat hamil" akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis ibu hamil.

    Akibatnya, si ibu akan menyalahkan kehamilan dan bayinya karena tidak lagi tampak baik di mata orang-orang terdekatnya. "Ia akan selalu merasa tidak percaya diri, dan mengharu-biru karena alasan-alasan sepele di pascakehamilan," katanya.

    Jika kondisi ini berlarut, depresi ini akan naik satu tingkat ke kondisi yang lebih parah, postpartum depression, yaitu fase ketika proses melahirkan sudah lewat dari dua pekan, tapi gejala depresi dan mudah tersinggung semakin hebat. Di fase ini, disarankan agar penderita menemui dokter spesialis kejiwaan agar tidak membahayakan ibu dan si jabang bayi.

    Wibowo mengungkapkan, sindrom ini bisa dicegah sejak awal, khususnya di masa-masa awal diketahui kehamilan. Ibu hamil harus paham betul tentang kehamilan dan memiliki seorang anak. Pemahaman ini, kata Wibowo, bisa diperoleh dari keluarga, bahan bacaan, atau dokter kandungan tempat si ibu berkonsultasi. "Ia harus siap lahir-batin saat melahirkan nanti," katanya.

    Untuk kasus tertentu, Wibowo mengatakan sindrom ini muncul karena si ibu sebelumnya punya latar belakang kondisi kejiwaan yang labil, misalnya temperamental dan pernah mengalami gangguan jiwa. Ia memastikan faktor ekonomi bukan termasuk penyebab sindrom ini.

    Perilaku suami yang sering meninggalkan istri di masa awal melahirkan juga jadi penyebabnya. "Hanya dukungan keluarga dan suami yang bisa membantu ibu mengatasi sindrom ini," katanya.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Hindari Resiko Gangguan Jiwa Pasca Melahirkan
    Cara Membagi Perhatian Setelah Melahirkan
    Supaya Ibu yang Baru Melahirkan Terbebas dari Stres


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara