Bahaya Mengintai Wanita yang Menopause Dini atau Terlambat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita tua atau lansia. Matt Cardy/Getty Images

    Ilustrasi wanita tua atau lansia. Matt Cardy/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Wanita yang mengalami menopause terlalu dini atau sangat terlambat memiliki risiko terserang diabetes tipe 2. Begitu peringatan yang dilontarkan para dokter di Inggris.

    Risiko tersebut paling besar terjadi pada para perempuan yang mengalami menopause terlalu awal. Mereka yang terakhir haid sebelum berumur 46 tahun berisiko 25 persen lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan pada masa mendatang dibanding wanita yang mengalami menopause pada usia rata-rata.

    Wanita yang terlambat mengalami pubertas tapi lebih awal saat menopause bahkan berisiko 40 persen lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan kelak. Sebaliknya, mereka yang sangat terlambat mengalami menopause, yakni di atas usia 55 tahun, juga memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap gangguan kesehatan.

    Para perempuan yang mengalami menopause di usia yang cukup lanjut berisiko 12 persen lebih tinggi terserang masalah kesehatan dibanding yang menopause pada usia akhir 40-an dan awal 50-an.

    Penemuan fakta ini sangat penting mengingat diabetes tipe 2, yang banyak menyerang manusia paruh baya dengan pemicu obesitas, adalah penyakit yang paling umum dialami oleh mereka yang makin gemuk.

    Menopause disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen pada wanita. Kekurangan estrogen bisa menyebabkan meningkatnya nafsu makan dan diikuti oleh naiknya kadar gula darah, sumber penyakit diabetes.

    Fakta lainnya, para wanita yang sengaja mengangkat rahim untuk menghindari kanker ovarium berisiko mengalami kepikunan. Akibat operasi pengangkatan rahim, menopause pun terjadi dan akibatnya adalah daya ingat melemah, begitu pendapat para ahli.

    DAILY MAIL | PIPIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara