Cara Benar Pesan dan Minum Kopi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kopi aceh Sanger dan Sanger Mini di Fakultas Kopi, Jalan Hangkelkir, Jakarta, 18 Juli 2016. TEMPO/ Nita Dian

    Kopi aceh Sanger dan Sanger Mini di Fakultas Kopi, Jalan Hangkelkir, Jakarta, 18 Juli 2016. TEMPO/ Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Apa yang kamu lakukan saat memasuki kedai kopi? Mencari kursi kosong kemudian membaca daftar menu yang disajikan, lantas memesan? Kalau kamu melakukan semua itu, maka kamu salah.

    Pemilik Fakultas Kopi, Aljunishar menyarankan pengunjung yang masuk ke dalam kedai kopi memanfaatkan fasilitas pelayanan di sana. Cara memesan kopi di Fakultas Kopi agak berbeda dengan café pada umumnya. Pengunjung harus pesan kopi dulu baru memilih tempat duduk.

    Aljunishar ingin konsumen jujur kepada barista, kopi seperti apa yang diinginkan. “Karena selera orang soal kopi itu berbeda-beda. Ada yang suka lebih pahit, lebih asam, atau banyak susunya,” katanya kepada Tempo, Selasa 19 Juli 2016.

    Namun Aljunishar mengakui gaya ini masih sulit diterapkan karena warga Ibu Kota terbiasa memesan menu belakangan saat sudah mendapatkan tempat duduk dan pelayan datang membawakan daftar menu. "Tapi kenapa kalau di kedai kopi 'yang itu', pengunjung mau pesen dulu baru duduk?" ujarnya berseloroh.

    Lelaki asli Aceh berusia 35 tahun ini berharap Fakultas Kopi betul-betul menjadi tujuan orang untuk minum kopi, bukan meeting point ketika kepepet. Selain soal cara memesan kopi, Aljunishar menyarankan kepada pengunjung agar tidak membiarkan kopi yang telah tersaji lebih dari 30 menit. Dia juga menyarankan untuk memesan jenis Cappuccino di pagi hari, Espresso siang hari, dan Latte malam hari.

    Di Fakultas Kopi, Aljunishar menggunakan biji kopi arabika tipika asli dari kebunnya sendiri di Takengon, Aceh Tengah. “Di sini kami sajikan dua jenis kopi, ada Kopi Gayo yang berjenis arabika dan Ule Kareeng yang berjenis robusta,” kata pria yang biasa disapa Agam itu.

    Menu Kopi Gayo yang disajikan bervariasi mulai dari Espresso sampai Latte Gayo. Sementara Ule Kareeng disajikan dengan dua gaya yaitu kopi hitam dan aneka macam Sanger, campuran kopi dengan susu.

    Meskipun menggunakan biji kopi terbaik di dunia, harga per cangkir yang ditawarkan hanya Rp 10-35 ribu. “Kami memakai kopi dari kebun sendiri, makanya nggak mahal,” kata dia. Murah bukan berarti asal-asalan. Barista di Fakultas Kopi dididik tak hanya untuk sekadar menjadi penyeduh saja, tetapi betul-betul paham soal kopi dan pemrosesan yang benar.

    DINI PRAMITA

    Berita lainnya:
    Cara Menyatakan 'I Love You' kepada Pria
    Punya Kebiasaan Menggigit Kuku, Apa Artinya?
    Pizza Andaliman, Gaya Italia untuk Lidah Batak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.