Perjuangan Dinny Jusuf Lestarikan Kain Tenun Toraja  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dinny Jusuf, CEO Toraja Melo. swa.co.id

    Dinny Jusuf, CEO Toraja Melo. swa.co.id

    TEMPO.COJakarta - Merasa penat dengan ingar-bingar Kota Jakarta, Dinny Jusuf memutuskan untuk meninggalkan profesinya sebagai Sekretaris Jenderal di Komisi Nasional Perempuan pada 2008. Dinny lalu hijrah ke kampung halaman sang suami, Danny Parura, di Tanah Toraja. Di sana, dia melihat kain tenun yang tidak laku. Bahkan orang Toraja sendiri tidak lagi memakainya. 

    Kemudian, Dinny membeli beberapa kain Toraja untuk dibawa ke Jakarta. Dari seorang sahabatnya, dia mengetahui motif kain tenun tersebut sudah langka. Terbersit niat untuk menyelamatkan kelestarian kain tenun Toraja. Namun Dinny menyadari tidak mempunyai keterampilan itu.

    Pada 2009, Dinny Jusuf mencoba membuat tas dari kain tenun yang dibelinya dari Toraja dan menjualnya kepada rekannya. Sebanyak 100 buah tas kain tenun berhasil terjual. Dia juga mendapat bantuan dari sang adik, Nina Jusuf, seorang desainer berlatar belakang pendidikan Academy of Art, University of San Francisco, Amerika Serikat.

    Yayasan Toraja Melo dan PT Toraja Melo pun didirikan oleh kakak-adik ini. Dinny menjabat Chief Executive Officer (CEO) sekaligus memegang keuangan, marketing, dan public relations, sedangkan Nina menjabat Chief Operating Officer (COO) yang menangani desain, produksi, dan operasional. Toraja Melo berarti Toraja Bagus. Saat ini tim di perusahaan tersebut berjumlah 10 orang.

    Berawal dari dua penenun, Toraja Melo saat ini memiliki 1.000 penenun di empat daerah, yaitu Toraja, Mamasa, Pulau Adonara, dan Pulau Lembata, Flores Timur. Konsep yang dijalankan perusahaan adalah bekerja dengan penenun yang belum terbantu. 

    Tidak hanya menjual kain, tapi Toraja Melo juga menjual brand story tentang kehidupan perempuan Toraja yang memproduksi kain tenun. Ini yang menjadi unique selling dan value added bagi konsumen untuk membeli. Banyak konsumen berkontribusi dalam membuat perubahan bagi para penenun.

    Menyadari pentingnya branding, Dinny dan Nina rajin mengikuti berbagai pameran fashion. Mereka pun memperluas butik Toraja Melo di kawasan Kemang, Jakarta dan menambah koleksi baru berbagai produk fashion dari tenun Toraja. Selain itu, kini tersedia fasilitas belanja online, yang memudahkan kalangan urban, terutama menengah atas. 

    Melalui Toraja Melo, Dinny juga berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk mengembangkan website. Pada September 2012, Toraja Melo bekerja sama dengan Museum Tekstil Jakarta dan BNI untuk pertama kalinya mengadakan pameran tekstil kain Toraja Indonesia.

    SWA

    Berita lainnya:
    Cara Membasmi Kecoa di Rumah 
    Jo Elaine Padukan Fashion dan Art di Butik ARA 
    Magali Gonzalez, Bocah 15 Tahun Berpenampilan Nenek 90 Tahun


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.