Cerita Mereka yang Berlebaran dalam Kesunyian

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita cantik berhijab. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita cantik berhijab. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Derit pepohonan memecah sunyi di belantara hutan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Bersahut-sahutan dengan kerik jangkrik, siulan burung hantu, dan suara beruang hutan yang mirip tangis bayi. Di antara bebunyian dan secercah cahaya dari lampu teplok di sesudungon—pondok tempat tinggal orang rimba—itu Siswaningtyas Tri Nugraheni harus menghabiskan malam takbiran pada Agustus 2012.

    Tyas—sapaan Siswaningtyas—adalah aktivis lingkungan di Komunitas Konservasi Indonesia Warsi sejak 2008. Tugasnya memberdayakan penduduk asli di sekitar kawasan taman nasional untuk merawat lingkungan mereka. Gairah itulah yang membuatnya tak berkecil hati meski menikmati Idul Fitri di tengah jenggala, empat tahun lalu. “Terasa aneh karena kelewat sepi dan tak mungkin menjumpai tabuh dan seruan takbir,” ia mengisahkan pengalamannya tersebut.

    Tyas, 34 tahun, sudah memprediksi suasana sepi malam takbiran itu. Maklum, kata dia, lokasi tinggalnya nun jauh di sana, di mana Desa Bukit Suban—desa transmigrasi terdekat—berjarak tiga jam jika ditempuh dengan berjalan kaki. Begitu pun sekitar 1.800 orang rimba yang tinggal bersamanya di pedalaman Jambi adalah penganut animisme dan dinamisme, meski ada sekitar 100 orang, kebanyakan remaja dan pemuda, yang mulai menganut Islam.

    Kesepian itu mendadak berubah keesokan harinya saat Idul Fitri meski tak ada salat id. Puluhan anak dan remaja rimba mendatangi sesudungon Tyas. Di tangan mereka, ada buah tampui (mirip buah manggis tapi warnanya jingga) dan kudukuya, yang merupakan buah lokal dari hutan Jambi. Rasanya mirip rambutan. Mereka datang dan mengucapkan selamat hari raya untuk Tyas. “Itu kejutan bagi saya di hari Lebaran,” kata lulusan Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu.

    Dari sesudungon, Tyas mengajak puluhan anak-anak rimba pergi ke sungai. Di sana mereka menyuluh ikan, yakni mencari ikan dengan berbekal kulit kayu yang dianyam membentuk jerat. Tangkapan mereka, berupa belasan ikan seluang dan baung, lalu dibawa ke pondok untuk direbus. Ditemani nasi pulen, ubi rebus, dan sambal, mereka menyantap menu Lebaran itu. “Meski tak ada lontong opor, saya bisa menciptakan sendiri suasana Lebaran yang hangat,” ia bercerita, lalu terbahak.

    Idul Fitri Tyas di rimba makin meriah lantaran Tumenggung Grip, sang kepala suku, memberinya lemang sebagai “bingkisan” Lebaran. Kata Tyas, menirukan ucapan Tumenggung Grip, makanan itu dimasak karena orang rimba tahu dirinya merayakan hari besar keagamaan. Lemang berbahan dasar durian itu baru tandas berselang sebulan setelah Lebaran karena ukurannya yang amat gigantik. Toh, rindu kepada orang tuanya di Jepara tetap membekap. Tapi ia tak bisa berbuat banyak karena sinyal telekomunikasi amat buruk.

    Bagaimana dengan tahun ini? Beruntunglah Tyas bisa berkumpul bersama sanak famili di kota ukir itu. “Lebaran bersama keluarga ataupun orang rimba sama-sama hangat dan nikmat,” tuturnya.

    Di tengah hutan pula Dhony Indrawan harus melewatkan Idul Fitri dua tahun belakangan. Ia bukan aktivis lingkungan seperti Tyas, melainkan insinyur di perusahaan eksplorasi minyak dan gas. Dua tahun lalu, ia merayakan Lebaran di situs pengeboran yang berada di hutan jati lebat di Blora, Jawa Tengah. Adapun tahun lalu, ia berhari raya di Manado. “Tapi pengalaman paling berkesan saat Lebaran di Blora,” kata Dhony.

    Medan yang ekstrem menjadi alasan Kota Barongan—julukan Blora—lebih berkesan bagi lulusan Universitas Diponegoro itu. Untuk menuju titik pengeboran, ia membuat jalur sendiri dengan membabat hutan. Apalagi Desa Doplang, yang merupakan permukiman terdekat dari lokasi tambang, hanya bisa dicapai sejam perjalanan dengan mobil.

    Lokasi “antah berantah” itu yang menjadi latar Dhony berpuasa dan merayakan Idul Fitri. Mereka tinggal di tengah hutan di mana peti kemas disulap menjadi kamar-kamar. Makanan dipasok dari jasa katering yang bekerja sama dengan perusahaannya. “Kami harus menebas tanaman perdu untuk membuat area lapang yang kami fungsikan untuk lokasi salat Jumat dan tarawih,” ia menjelaskan.

    Lalu, pada hari Lebaran, Dhony dan kawan-kawannya mendapat kejutan. Ia menerima kabar bahwa perusahaan mengizinkan ia dan kawan-kawan pergi ke desa terdekat untuk menunaikan salat id. Semangat Dhony makin berlipat karena bosnya mengumumkan bakal ada ketupat opor dan kue nastar. Menu itu dimasak oleh salah satu keluarga pegawai tambang yang tinggal di desa terdekat karena perusahaan sudah memesannya jauh-jauh hari.

    Pagi-pagi buta di hari kemenangan itu, Dhony dan kawan-kawannya bergegas ke desa terdekat untuk salat Idul Fitri. Tetapi, ia berujar, ada juga rekan kerja yang terpaksa tak salat karena bertugas pada kelompok kerja pagi. Nah, mereka inilah kelompok yang membuyarkan pesta Lebaran Dhony dan kawan-kawannya yang pergi salat. Menurut dia, “Lontong opor dan kuenya sudah habis dimakan mereka saat kami pulang salat id.”

    Ia tak bersungut-sungut atas kejadian itu, tapi justru menganggapnya sebagai pengalaman lucu. Sebab, Dhony mafhum koleganya berusaha mencari obat rindu kepada kampung halaman. Dan lontong opor, kata dia, adalah penawar paling mujarab untuk menuntaskan kangen yang memuncak itu.

    Sementara Tyas dan Dhony merayakan Idul Fitri di lokasi terpencil, tak demikian dengan Sersan Mayor Mohamad Syafrudin. Ia adalah prajurit Marinir yang pernah bertugas menjadi tentara perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon pada 2012–2013. Tantangan yang dihadapi Udin—sapaan akrab Syafrudin—bukan hanya lokasi yang jauh, tapi juga potensi konflik di negeri yang diamuk perang saudara itu.

    Udin, 46 tahun, tergabung dalam gugus tugas Military Community Outreach Unit, yang beranggotakan tentara Indonesia, Italia, dan Lebanon. Tugasnya adalah mengkampanyekan pesan-pesan perdamaian kepada sekolah, universitas, dan pemerintah lokal setingkat kecamatan.

    Di negeri yang berbatasan langsung dengan Suriah itu, Udin merasa saum pertamanya di negeri asing sangat berat. “Suhu di sana lebih panas dibanding di Indonesia, dan durasi puasanya sekitar 16 jam,” ia berujar saat ditemui di Markas Marinir, di Kwitang, Jakarta Pusat.

    Untungnya tantangan itu sukses ia lewati tanpa ada puasa yang batal barang sehari. Lalu bersiaplah Udin dan tentara Indonesia lainnya merayakan Lebaran. Salat id, kata ayah dua anak ini, dilaksanakan di Masjid Kamp Soedirman. Kamp ini adalah pusat berkumpulnya tentara Indonesia di markas pusat pasukan PBB di Naqoura, Lebanon Selatan.

    Masjid Kamp Soedirman sebenarnya adalah sebuah tenda yang besarnya dua kali tenda pleton. Ia mampu menampung sekitar 500 orang. Bersama tentara Indonesia, ada prajurit Tanzania yang ikut bergabung menunaikan salat. “Seusai salat kami bersalam-salaman dan menyantap makanan khas Indonesia,” tuturnya.

    Di situlah pesta Idul Fitri bagi tentara Indonesia. Mereka melahap menu khas Indonesia, salah satunya lontong opor lengkap dengan ayam dan sayur. Bedanya, lontong ala tentara Indonesia tak dibungkus dengan daun kelapa, melainkan dengan plastik. “Bentuknya besar-besar dan ada saja yang tak matang sampai dalam,” kata Udin, kemudian tergelak.

    Tak ketinggalan, sambal, ikan teri, dan kerupuk mendampingi opor ayam. Sebagian bahan makanan merupakan produk lokal, sedangkan bahan yang tak dijual di Lebanon, seperti sambal dan ikan teri, dibawa langsung dari Indonesia.

    Menurut Udin, ia juga beranjangsana ke rumah penduduk lokal yang menjadi mitra kerjanya. Di sana ia disuguhi baklava, kudapan yang terbuat dari kacang mete berlumur madu. Ada juga manaeesh, yakni piza mini dengan daging cincang dan rencah ala Timur Tengah. Cita rasa menu terakhir ini menurutnya tak cocok dengan lidah orang Indonesia. “Terpaksa kami makan karena tak boleh pamit jika belum menyantap piza mini itu,” ia menjelaskan.

    Kemeriahan Lebaran di Lebanon tak membuat Udin lupa kepada keluarganya di Tanah Air. Ia menggunakan layanan panggilan video Skype untuk menelepon istri dan anaknya di Jakarta serta ibunya di Tegal. Belum percakapan dimulai, kata Udin, tangis ibunya buru-buru pecah. “Saya jadi ikutan menangis karena ibu begitu rindu, dan saya tahu ia sedang sakit kala itu,” ujar prajurit yang sudah 20 tahun bertugas di Dinas Penerangan Korps Marinir tersebut.

    Muhammad Aga juga merasa senasib dengan Tyas, Dhony, dan Udin: merayakan Lebaran di tempat tak lazim. Insinyur geodesi di Mahakarya Geo Survey ini pernah melewatkan Idul Fitri di atas kapal survei yang berlayar di Laut Jawa. Peristiwa itu dia alami pada 2011.

    Saat itu Aga harus memetakan lanskap bawah laut yang akan dibeber kabel serat optik. Jadwal permulaan proyek sejatinya sudah molor sehingga ia harus bergegas mengumpulkan data tepat waktu. Di tengah sibuknya pekerjaan tersebut, Idul Fitri tiba. “Perusahaan tak memberi kelonggaran agar kapal bisa merapat dan kami punya kesempatan menunaikan salat id.” ia menjelaskan. “Tapi maklum saja, karena terlambat sedikit, maka biaya survei terus membengkak.”

    Walhasil, ia dan belasan awak kapal merayakan Lebaran di atas kapal survei Iyzco Supplier. Diselingi deru ombak dan semilir angin laut, kru kapal cuma memanjatkan doa dan bersalam-salaman. Kemudian, aktivitas survei berlanjut hingga petang.

    Tak ada salat id. Apalagi lontong opor. Menurut Aga, menu istimewa pada Lebaran saat itu adalah mi instan goreng dengan telur ceplok. “Itu satu-satunya logistik yang tersisa untuk merayakan Lebaran di kapal,” ujarnya.

    Tapi, alih-alih menyesali pengalaman itu, Aga justru menyimpan rapat dalam memorinya. Ia mengaku, meski merayakan Idul Fitri di lokasi terasing, hal itu merupakan bentuk ibadah. “Semoga yang saya kerjakan di tengah Laut Jawa itu menjadi berkah tak hanya bagi saya, tapi juga untuk sesama,” kata lulusan Institut Teknologi Bandung ini.

    RAYMUNDUS RIKANG

    Berita lainnya:
    Begini Cara Jawab Pertanyaan 'Kapan Nikah?'
    Pilih Mana, Sendiri tapi Sehat atau Berdua tapi Sakit
    Mudik, Jangan Luput Plesir ke Pantai Berpasir Hitam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal yang Dilarang dan Dibatasi Selama Pemberlakuan PSBB Jakarta

    Anies Baswedan memberlakukan rencana PSBB pada 9 April 2020 di DKI Jakarta dalam menghadapi Covid-19. Sejumlah kegiatan yang dilarang dan dibatasi.