Ke Gresik, Jangan Lupa Menyantap Nasi Krawu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasi Krawu Gresik. TEMPO/Artika

    Nasi Krawu Gresik. TEMPO/Artika

    TEMPO.CO, Gresik (Jawa Timur) - Nasi dalam bungkusan daun pisang memang selalu menggoda. Kita dibuat bertanya-tanya, apa yang terhidang di dalamnya. Perasaan itu juga yang akan muncul saat kita menyambangi Gresik, kota yang terletak sekitar 22 kilometer di barat Surabaya, dan melewati puluhan warung yang menyajikan nasi krawu.

    Ada banyak pilihan gerai. Seperti berjanjian, tiap pemilik mencantumkan awalan "Buk" sebagai nama warung mereka. Ada Buk Su, Buk Tiban, Buk Timan, Buk Sudjiman, dan banyak Buk lainnya. Buk berasal dari kata "ibu" yang diucapkan dengan logat Madura. Maklum, hampir semua pemilik warung berasal dari pulau tetangga tersebut.

    Hampir setiap warung itu menyajikan nasi krawu dengan rasa berbeda. Konsep warung pun beragam. Ada yang berdiri di emperan toko, ada juga yang berupa ruangan berpenyejuk udara. Tempo mengunjungi warung nasi krawu dengan sentuhan modern milik Bu Azza di Jalan Panglima Sudirman. Selain tempat, yang membedakan warung itu adalah kuah kaldu dari rebusan daging nasi krawu disajikan terpisah di dalam mangkuk kecil. “Kuah itu disebut semur, rebusan daging yang digoreng,” ujar Maya, pelayan di warung itu. Rasanya gurih, segar, dan sedikit asin.

    Kami juga menjajal nasi krawu di Habbah Sufa, yang juga berdiri di Jalan Panglima Sudirman. Surya Rahmiati, generasi ketiga pemilik gerai itu, menyebut keluarganya sebagai pelopor penjualan sajian tersebut. “Nenek saya, Munimah, adalah yang pertama jualan di Gresik setelah pindah dari Madura tahun 1960-an,” kata dia.

    Surya berkisah, nasi krawu awalnya hanya dijual di Bangkalan. Namun, suatu ketika, pasar di sana kurang baik, sehingga Buk Mah—panggilan Munimah—hijrah ke Gresik. Dia lantas berjualan di Desa Bedilan. Putrinya, Sufayyah, yang biasa dipanggil Buk Su—ibu Surya—kemudian ikut berjualan di Pasar Gresik.

    Banyak orang mengira "krawu" berasal dari kata “mengeruk” karena, secara tradisi, nasi itu dimakan langsung memakai tangan. Ada juga yang menyebut krawu sebagai cara penjual menyuwir daging—dalam bahasa Jawa, krawuk-krawuk. Namun, menurut Surya, krawu ialah sebutan salah satu komponen dalam sajian itu, yaitu parutan kelapa berbumbu cabai merah.

    Sedikitnya ada tiga jenis olahan parutan kelapa. Ada mangut, yakni parutan kelapa muda yang dibumbui kluwak lalu direbus hingga airnya habis. Parutan kelapa yang diberi bumbu dan diolah hingga berwarna kecokelatan disebut abon. Adapun krawu adalah parutan kelapa yang dibumbui cabai merah halus, sehingga warnanya kemerahan.

    Sambal nasi krawu lezat nian. Cabai digoreng dan dilembutkan bersama petis udang, terasi, dan sedikit kluwak. Perpaduan pedas dan asinnya membikin ketagihan. “Aku memang suka pedas, jadi suka. Apalagi nasinya pulen dan hangat, makin nikmat,” kata Febriyanti, pembeli asal Surabaya.

    Harga seporsi nasi krawu antara Rp 15 ribu dan Rp 20 ribu. Jika Anda tidak doyan jeroan, jangan lupa berpesan agar penjual menyajikan yang full daging.

    ARTIKA RACHMI FARMITA

    Berita lainnya:
    Jenis Perawatan Wajah Menjelang Lebaran
    Begini Cara Jawab Pertanyaan 'Kapan Nikah?'
    Siapa Lebih Mahir Berkendara, Pria atau Wanita?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.