8 Mitos tentang Tabir Surya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita santai sambil berjemur sinar Matahari. Dan Kitwood/Getty Images

    Ilustrasi wanita santai sambil berjemur sinar Matahari. Dan Kitwood/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Liburan ke tempat yang banyak sinar matahari seperti pantai memang menyenangkan. Namun jangan biarkan sinar matahari itu merusak kulit, apalagi sampai menyebabkan kanker.

    Krim antisinar matahari atau tabir surya adalah perlengkapan yang harus dibawa ketika berlibur ke tempat yang hangat karena bisa mengurangi risiko terkena kanker kulit. Sayangnya, masih banyak orang yang belum menyadari pentingnya krim pelindung dari sinar matahari itu, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat.

    Selain itu, banyak pula mitos yang salah tentang krim pelindung tersebut yang sudah telanjur dipercaya orang. Berikut ini beberapa pandangan yang keliru tersebut.

    1. SPF 90 lebih baik dari SPF 30
    Kadar Sun Protection Factor (SPF) selalu disebutkan di setiap kemasan krim pelindung dari sinar matahari. Banyak orang percaya makin tinggi SPF-nya makan makin baik dalam melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Padahal SPF-30 pun sudah cukup buat kulit karena mampu memblok 97 persen sinar ultraviolet B (UVB).

    2. Krim melindungi dari sinar UVA dan UVB
    Belum tentu. Banyak produk yang tak mencantumkan secara akurat mengenai kadar perlindungan terhadap sinar UVA dan SPF hanya melindungi dari sinar UVB.

    3. Memakai krim sehari sekali sudah cukup
    Salah. krim antisinar matahari harus dipakai ulang setiap dua jam, terutama setelah kita berenang atau banyak berkeringat. Meski dalam kemasan ditulis "tahan air", tetap saja krim akan luntur setelah 40 menit di dalam air.

    4. Krim bisa disimpan lama
    Tidak benar. Krim akan kehilangan beberapa manfaatnya setelah satu tahun dan tak akan ada gunanya lagi setelah tiga tahun disimpan dalam kondisi sudah dibuka, meskipun belum melewati tanggal kadaluwarsa.

    5. Memakai sedikit krim sudah cukup
    Salah. Jumlah pemakaian yang dianjurkan untuk seluruh tubuh adalah sekitar satu ons atau segenggam penuh krim. Pastikan krim dioleskan pada kulit yang kering 15-30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan agar bisa diserap terlebih dulu oleh kulit.

    6. Bila cuaca mendung tak perlu krim
    Satu lagi pandangan yang keliru. Hampir 80 persen sinar ultraviolet bisa menembus ketebalan awan. Pasir bisa memantulkan 25 persen sinar itu dan pantulan dari salju 80 persen.

    7. Krim antisinar matahari menghalangi tubuh memproduksi vitamin D
    Inilah alasan yang sering dikemukakan oleh banyak orang. Konon, produksi vitamin D pada tubuh membutuhkan bantuan sinar matahari. Padahal, sinar matahari itu tak harus didapat saat berlibur tapi juga dalam kegiatan sehari-hari.

    8. Menggunakan krim pelindung tersebut sudah cukup untuk mencegah kanker kulit
    Tidak benar. Krim hanya berfungsi untuk mengurangi risiko. Namun untuk menghindarinya, cobalah sebisa mungkin jangan terus terpapar sinar matahari.

    VERYWELL | PIPIT

    Berita lainnya:
    Tanda Pria Ingin Kamu Menjadi Istrinya
    4 Posisi Bercinta yang Bisa Membakar Kalori Tubuh
    Agar Asisten Rumah Tangga Kembali Pasca-Lebaran


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.