Begini Saran Psikolog Agar Anda Sukses Berbisnis MLM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • leviellerbe.com

    leviellerbe.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Apakah Anda telah bergabung ke dalam bisnis MLM? Atau kini sedang ditawari untuk ikut bergabung MLM? Jaringan MLM biasanya lebih mudah masuk kepada ibu rumah tangga yang suka berkumpul, bergabung dalam komunitas, kongkow bareng, arisan, pengajian, dan lain-lain.

    Bisnis MLM memanfaatkan koneksi. Dengan memiliki banyak teman perkumpulan, maka pelaku bisnis MLM akan punya lahan jualan.

    “Kesalahan terjadi ketika orang-orang tanpa pergaulan yang bagus, nekat melakukan MLM,” katan Anggia Chrisanti, konselor dan terapis di Biro Psikologi Westaria. “Di sinilah masalah seperti ‘teman lama tiba-tiba mengajak bertemu hanya untuk memprospek’ bermula,” simpulnya.

    Nah, Anda tertarik untuk berbisnis MLM? Beberapa kiat dari Anggia berikut bisa menjadi acuan agar bisa sukses dalam bisnis MLM:

    1. Namanya jualan, tidak ada yang cuma jualan saja. Kalau kita tergiur dengan cerita-cerita sukses pelaku MLM yang antara lain sudah mendapat bonus ke luar negeri, mobil, dan lain-lain, selalu ingat bahwa:

    - Di situ ada ilmunya atau strategi.
    - Ada waktu banyak untuk belajar dan jualan.
    - Ada modal minimal menjadi stockist.

    2.  Pastikan kalau kita memang punya bakat atau passion dalam hal sales dan marketing. Minimal, kalaupun belum sukses dengan penghasilan dan bonus, kita akan menikmati hari-hari kita untuk jualan itu sendiri.

    3. Pastikan kita punya lahan jualan. Kalau kumpul-kumpul saja malas, bertemu teman seperlunya (selain teman kerja, misalnya), pengajian sekali-sekali, arisan seringnya transfer saja, reuni sekali setahun, nongkrong dengan ibu-ibu teman sekolah anak pun ogah, ya lahan jualan pun bisa jadi tidak ada. “Walaupun teman di media sosial banyak, tapi lain, loh. Untuk jualan butuh kedekatan, tetap harus ada hubungan langsung,” tegas Anggia.

    4. Semua pekerjaan dan aktivitas adalah baik, selama kita memang senang, masuk akal, merasa potensial, dan halal. Nah, kalau kita tidak menemukan alasan-alasan itu, tidak mencemplungkan diri lebih baik. “Daripada menyesal,” tutup Anggia.

    TABLOIDBINTANG


    Berita lainnya:
    Thoprak yang Ini Berkuah Seperti Bakso
    Siapa Lebih Mahir Berkendara, Pria atau Wanita?
    Saran Buat Para Ibu yang Ditinggal Pembantu Mudik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.