Agar Asisten Rumah Tangga Kembali Pasca-Lebaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pakaian kotor menumpuk. familynature.com

    Ilustrasi pakaian kotor menumpuk. familynature.com

    TEMPO.COJakarta - Masalah klasik setiap habis Lebaran adalah sulitnya mencari asisten rumah tangga. Keberadaan asisten rumah tangga di kehidupan perkotaan sangat dinantikan, terutama jika pasangan suami-istri bekerja. Masa pasca-mudik Lebaran memang ibarat masa paceklik. Agen pembantu rumah tangga pun kekurangan orang.

    Pada tahap pencarian ini, menurut psikolog industri Peggy Sjabuddin, perlu ketelitian pengguna jasa soal latar belakang calon asisten rumah tangganya. "Sebab, ART nantinya akan jadi bagian lain dari anggota keluarga yang tinggal di rumah," tuturnya. Maka, kejelasan soal tempat tinggal, status perkawinan, dan keluarga calon asisten rumah tangga wajib diketahui. "Secara pribadi, saya lebih memilih referensi ketimbang pakai jasa penyalur."

    Jika sudah menggandeng asisten rumah tangga, langkah berikutnya adalah memelihara hubungan kerja. Peggy mengatakan faktor yang paling menentukan dalam hal ini adalah perlakuan pengguna jasa. Hal paling utama yang harus pemakai jasa perhatikan adalah cara bicara. "Tidak semua ART mengerti apa yang kita inginkan karena biasanya mereka tidak memiliki tingkat pendidikan yang seberuntung kita," ujar Peggy.

    Selanjutnya, urusan jam kerja. Menurut Peggy, pengguna jasa harus memberi batasan jam kerja dan istirahat yang jelas. "Termasuk hari libur rutin," ujarnya. Misalnya pembantu mendapat jadwal libur di pekan pertama setiap bulan namun belum diambil, maka harus diganti pada pekan yang lain.

    Peggy juga menyarankan besaran gaji dibicarakan sejak awal. Hal ini juga berlaku untuk kebutuhan lain, seperti—jika disepakati—perlengkapan mandi dan subsidi pulsa. "Kalau perlu, dibuat tertulis atau dibicarakan berulang-ulang untuk mengingatkan mereka," katanya.

    Rutinitas pekerjaan juga harus dijelaskan sejak awal. Misalnya, jam bangun pagi dan tugas-tugas prioritas saat memulai hari. "Misalnya membuat sarapan atau menyiapkan keperluan anak untuk sekolah," tuturnya.

    Nah, jika sederet kesepakatan itu sudah diraih, tinggal menjalankannya. Pada tahap ini, pengguna jasa membutuhkan ketegasan untuk memastikan aturan-aturan tersebut dijalankan. Misalnya, memastikan anak-anak mandi pukul 16.00, pintu rumah terkunci mulai pukul 20.00, dan sebagainya.

    KORAN TEMPO

    Berita lainnya:
    Jenis Perawatan Wajah Menjelang Lebaran
    Ini Strategi Menghemat Belanja Bahan Makanan
    Sinar Matahari Terbit dan Terbenam Paling Bahaya buat Mata


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).