Kerja 12 Jam Sehari Buruk bagi Kesehatan, Terutama Wanita

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Huffingtonpost.com

    Huffingtonpost.com

    TEMPO.COJakarta - Bekerja dalam waktu yang panjang dan dilakukan bertahun-tahun lamanya mungkin dapat membawa Anda menuju jenjang karier yang lebih baik. Tapi tahukah Anda, jam kerja yang terlalu panjang dapat menyebabkan tumpukan penyakit kronis bertahun kemudian, terutama pada perempuan.

    Sebuah penelitian yang dilakukan Ohio State University di Amerika Serikat menunjukkan, perempuan dan laki-laki yang bekerja 60 jam dalam seminggu atau 12 jam sehari, rentan terkena penyakit kronis di usia pertengahan hingga usia muda mereka.

    "Bekerja terlalu lama sering tanpa disadari meningkatkan risiko dan potensi penyakit kronis saat tua nanti,” ujar Profesor Kesehatan Masyarakat, Ohio State University, Allard Dembe, yang melakukan penelitian seperti dikutip dari situs Chicago Tribune, Jumat, 24 Juni 2016.

    Jam kerja panjang yang dimaksud Dembe adalah 50-60 jam dalam seminggu. Menurut penelitian Dembe, pria yang bekerja 50-60 jam seminggu rentan menderita perapuhan tulang dan sendi. Sedangkan dampak bekerja 50-60 jam seminggu pada perempuan bisa lebih parah. Ada banyak penyakit kronis yang mengintai, seperti kanker (kecuali kanker kulit), jantung koroner, diabetes, perapuhan tulang, stres, asma, dan tekanan darah tinggi.

    “Saya rasa penyakit itu juga timbul karena ada peran ganda dari perempuan, yang tidak cuma bekerja tapi juga mengurus rumah tangga, anak, dan menjaga kesehatan orang lain di dalam keluarganya,” kata Dembe.

    Penelitian Dembe ini dilakukan terhadap lebih dari 7.500 pekerja di Amerika Serikat dengan berbagai macam latar belakang dan gender. Rata-rata subyek penelitian berusia di atas 50 tahun ketika riset selesai dilakukan. Subyek dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pekerja yang bekerja 30-40 jam seminggu (28 persen), 41-50 jam seminggu (56 persen), 50-60 jam (13 persen), dan di atas 60 jam seminggu (3 persen).

    “Bekerja dalam waktu panjang akan membuat tubuh kurang istirahat dan dipaksa untuk beradaptasi dengan stres dan tekanan sepanjang masa,” kata Dembe.

    Spesialis jantung dari John H. Fisch Center For Women’s Health di New York, Nieca Goldberg, mengamini penelitian yang dilakukan Dembe. Perempuan yang bekerja dalam waktu panjang, menurut Goldberg, sering mengabaikan kesehatan diri mereka. “Mereka terkadang tidak memiliki waktu untuk melakukan uji kesehatan, seperti mammogram, misalnya,” katanya. 

    Faktor lain yang memicu risiko penyakit pada perempuan bekerja dengan waktu panjang adalah kesempatan yang sedikit dalam menyiapkan makanan sehat. “Mereka sering makan fast food dan makanan tidak sehat lain,” kata Goldberg.

    Risiko penyakit semakin besar pada perempuan yang menjadi orang tua tunggal. Hal ini terjadi karena perempuan yang menjadi orang tua tunggal lebih rentan terpapar stres dan hidupnya lebih banyak tekanan. 

    Lalu bagaimana solusinya? Goldberg menyarankan, perempuan bekerja tetap harus memiliki waktu santai setiap harinya. “Bisa dilakukan dengan cara berolahraga, membaca buku, menonton televisi atau bahkan hanya mengambil napas sesaat,” ujarnya.

    CHICAGO TRIBUNE | CHETA NILAWATY

    Baca juga :
    Jangan Menahan Pipis Kala Mudik
    Ini yang Akan Dialami Pria Bila Ia Mendua
    Bukan Virus, Ternyata Ini Penyebab Terbesar Sakit Perut


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.