Gula Tetap Lebih Baik daripada Pemanis Buatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sxc.hu/Nadia Jasmine

    Sxc.hu/Nadia Jasmine

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah pemanis buatan pada makanan harus dikurangi karena membuat anak-anak jadi malas makan buah segar. Pendapat itu dikemukakan oleh Dr Susan Jebb, profesor bidang diet dan kesehatan masyarakat di Universitas Oxford, Inggris.

    Menurut Jebb, anak-anak terbiasa dengan pemanis buatan yang berlebih sehingga membuat buah-buahan tak mampu bersaing. Bila makanan hanya diberi sedikit pemanis buatan, anak-anak pun akan memakan makanan sehat yang tak terlalu manis.

    "Tantangan mengganti gula dengan pemanis buatan adalah dengan menyingkirkan kalori tapi tetap menikmati rasa manis," kata Jebb di Daily Mail.

    Jebb mengaku sangat ingin melihat produsen makanan mulai mengurangi bukan hanya jumlah gula pada produk mereka, tapi juga semua jenis pemanis buatan.

    "Salah satu alasan kita sulit menyuruh anak-anak untuk makan buah adalah karena mereka terbiasa dengan jumlah berlebih pemanis buatan, dan buah tak punya rasa manis selezat itu," ujar Jebb.

    Profesor Jimmy Bell, pakar obesitas di Universitas Westminster, mengaku menyarankan para siswa dan anak-anaknya sendiri untuk lebih memilih gula dibanding pemanis buatan. "Konsumsilah gula yang bagus, makan cokelat yang bagus, bukan cokelat abal-abal. Nikmati saja gula, tapi kurangi jumlahnya, nikmati hidup bahagia," tutur Bell.

    PIPIT


    Berita lainnya:
    Sedih? Menangislah Sepuasnya, Lepaskan Semua
    Cara Menghapus Rasa Bersalah karena Tinggalkan Anak Bekerja
    Hati-hati, Enam Makanan Ini Bisa Mengganggu Fungsi Otak


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.