Logika Puasa, Berat Badan Turun, dan Massa Otot  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak kecil berpuasa. parenthub.com.au

    Ilustrasi anak kecil berpuasa. parenthub.com.au

    TEMPO.COJakarta - Berpuasa pada bulan Ramadan sangat baik untuk kesehatan bila dilakukan dengan benar. Ketika tubuh kekurangan makanan, maka yang dilakukannya adalah membakar lemak untuk diubah menjadi energi dan berujung pada turunnya berat badan.

    Namun, bila berpuasa terlalu lama, tubuh mulai menggerogoti protein pada otot untuk menjadikannya tenaga. Hal itu tidak baik buat kesehatan. Menurut Dr Razeen Mahroof dari Universitas Oxford, Inggris, ada kaitan yang kuat antara diet dan kesehatan.

    "Ramadan tak selalu hanya dianggap sebagai kesempatan untuk menurunkan berat badan karena aspek spiritual secara umum lebih ditekankan daripada aspek kesehatan. Namun bulan ini juga menjadi kesempatan besar untuk merasakan manfaatnya bagi kesehatan," ujar Mahroof seperti dilansir Ramadan.co.uk.

    Perubahan yang terjadi pada tubuh selama berpuasa bergantung pada lamanya berpuasa secara kontinu. Tubuh siap berpuasa selama delapan jam sejak makanan terakhir masuk, ketika usus selesai menyerap nutrien dari makanan.

    Dalam keadaan normal, glukosa yang tersimpan dalam lever dan otot menjadi sumber energi utama. Selama berpuasa, simpanan glukosa inilah yang paling dulu dipakai untuk menyediakan tenaga. Setelah beberapa jam puasa berjalan dan glukosa habis, giliran lemak yang menjadi sumber energi.

    Seiring berjalannya hari dan minggu, berikutnya giliran protein yang dijadikan sumber energi. Bila keadaan seperti itu berlangsung untuk waktu yang sangat lama, tentu saja tak baik buat kesehatan. Protein dalam otot terus terkuras untuk dijadikan energi sehingga mengakibatkan orang yang menjalaninya terlihat kurus dan lemah.

    Namun keadaan seperti itu tidak terjadi selama Ramadan karena puasa hanya berlangsung harian dan orang yang menjalaninya akan berbuka setelah waktunya, bukan berpuasa secara terus-menerus tanpa kenal waktu. 

    Puasa Ramadan hanya berlangsung dari fajar sampai petang, sehingga energi tubuh yang hilang bisa digantikan lewat makanan saat sahur dan berbuka. Puasa Ramadan hanya menyedot glukosa dan lemak untuk dijadikan tenaga, tak sampai menguras protein di otot.

    Menurut Dr Mahroof, penggunaan lemak untuk dijadikan energi berefek pada berkurangnya berat badan, menjaga otot, dan menurunkan kadar kolesterol. Sebagai tambahan dari turunnya berat badan adalah kontrol yang lebih baik terhadap diabetes dan tekanan darah tinggi. "Detoksifikasi juga terjadi karena racun-racun yang tersimpan dalam lemak tubuh dikeluarkan dari tubuh," kata Dr Mahroof.

    PIPIT

    Berita lainnya:
    Bahaya jika Membentak Anak Usia 2-7 Tahun
    Penderita Diabetes, Batalkanlah Puasa Jika Mengalami Hal Ini
    'Iman' Pria Gampang Goyah Saat Berteman dengan Wanita


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.