Patut Dicoba, Wisata Kuliner di Dalam Kontainer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pusat jajanan Food Container, Jalan Lebak Bulus Raya No. 30A, Lebak Bulus, Jakarta, 30 Desember 2015. TEMPO/Nita Dian

    Pusat jajanan Food Container, Jalan Lebak Bulus Raya No. 30A, Lebak Bulus, Jakarta, 30 Desember 2015. TEMPO/Nita Dian

    TEMPO.CO, Jakarta - Kumpulan lapak masing-masing berukuran 2 x 2 meter di dalam ruang berdinding fiber itu terlihat sama. Hanya warna cat yang membedakan. Padahal setiap lapak menyajikan berbagai macam makanan unik, rasa yang lumayan, dan harga yang ramah di kantong. Kumpulan lapak makanan ini dinamai salah satu pendirinya, Yudith Handoyo, dengan sebutan Food Container.

    "Kami ingin menyajikan konsep one-stop dining destination yang unik, kreatif, dan memang sedang tren. Juga eye catching," kata Yudith Handoyo, di Jakarta Selatan. Ada 22 lapak yang sudah tersedia, tapi baru 18 yang terisi. Sentra makanan yang baru dibuka pada akhir Desember tahun lalu itu menyasar anak muda sebagai pelanggannya.

    Yudith sejak awal tidak ingin terjebak pada jenis menu makanan yang sama dengan sentra makanan lain, seperti Pasar Santa atau Food Fighter. Food Container ingin menyajikan menu kudapan yang banyak orang belum mengenalnya. "Makanan yang ada di sini sebelumnya lebih banyak beredar di food bazaar. Banyak dari mereka yang belum memiliki gerai offline," kata Yudith.

    Maklum saja, penjual makanan di Food Container adalah peserta bazar makanan yang sering diadakan Yudith bersama teman-temannya dari satu perusahaan event organizer. Karena biasa menjadi peserta bazar, makanan yang dibuat memiliki spesifikasi khusus dan jarang ditemui di tempat umum.

    Salah satunya adalah KeLasi. Gerai yang dimiliki Justin Angelo Tany ini menjual kelapa isi yang disajikan secara lebih berkreasi. Memang sebelum dibuka di Food Container, KeLasi sudah buka lebih dulu di Kelapa Gading, tapi belum ada restoran lain yang menyajikan menu kelapa yang sama seperti KeLasi.

    Sajian KeLasi berupa kelapa yang dibelah dua, lalu diisi dengan bahan makanan asli Indonesia. Ada ketan hitam, buah-buahan asli Indonesia, dan kacang. Ada pula yang isinya divariasikan dengan berbagai macam bahan lain, misalnya biskuit, astor, atau cornflakes. Untuk seluruh sajian kelapanya, Justin menggunakan jenis kelapa lokal. "Perbedaan utamanya, kelapa lokal tidak diproduksi secara massal, sehingga tidak ada bahan kimia atau buatan yang digunakan dalam proses pertumbuhan dan pengolahannya," ujar Justin.

    KeLasi memiliki beberapa menu andalan. Salah satunya adalah KeLasi Tropical Cruise. Menu ini berupa kelapa yang dibelah dua, lalu diisi es krim, ketan hitam, buah leci, peach, dan ditaburi kacang. "KeLasi Tropical Cruise lebih banyak diminati oleh pelanggan dari kalangan pekerja, sedangkan yang manis seperti cokelat lebih banyak anak muda," kata Justin.

    KeLasi didirikan Justin sejak Maret 2015, yang saat itu dioperasikan di Kelapa Gading. Sedikit berbeda dengan yang ada di Food Container, KeLasi di Mal Kelapa Gading menyediakan menu variasi air kelapa yang diberi perasa, seperti jeruk, stroberi, dan madu, maupun yang memiliki rasa asli. "Kami sebut Coco Pouch. Ini untuk mengakomodasi orang-orang tua yang tidak begitu suka rasa variasi. Biasanya mereka membeli air kelapa rasa orisinal," kata Justin.

    Selain KeLasi, kedai lain yang menarik adalah Warung Mamacha. Kedai makanan yang berisi kudapan manis dan variasi mi ini menyajikan berbagai olahan roti. Salah satu menu terunik adalah Churros—kudapan manis berbahan dasar mirip cakue. Bedanya, bentuk Churros lebih kecil dengan tekstur yang kering. Warung Mamacha menyediakan berbagai topping Churros yang sedang populer, misalnya Nutella, cokelat, teh hijau (matcha), dan fruity loops.

    Pada menu fruity loops, topping-nya terasa agak asam. Tapi vla susu yang disertakan langsung menutup tawaran asam tersebut. Satu porsi Churros dibanderol Rp 25 ribu, sedangkan topping dibanderol Rp 5.000.

    Warung Mamacha juga menyediakan berbagai jenis minuman unik. Misalnya, Hot Mimatcha, yang merupakan minuman hangat olahan dari sirup karamel dengan teh hijau. Sekilas rasanya mirip Milo hangat. Salah seorang pramusaji di sana menyatakan Hot Mimatcha adalah salah satu menu yang direkomendasikan. Satu gelas sedang Hot Mimatcha dibanderol Rp 17 ribu.

    Bagi para pemburu hal-hal baru dalam dunia kuliner, Food Container rasanya cocok dikunjungi. Menu makanan unik, lokasi yang nyaman, dan harga yang ramah bagi dompet merupakan kombinasi yang memikat untuk Anda.

    CHETA NILAWATY

    Berita lainnya:
    Cara Benar Pakai Bedak
    Tren Terbaru: Bulu Mata Pelangi
    Puasa Bukan Alasan Tak Fokus Kerja, Ini Tipnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.