Gaya Hidup Dorong Produksi Kopi Olahan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kopi. Pixabay.com

    Ilustrasi kopi. Pixabay.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Konsumsi produk kopi olahan di dalam negeri meningkat lebih dari 7 persen per tahun. Salah satu faktornya adalah perubahan gaya hidup masyarakat, terutama kaum urban. Kesimpulan tersebut disampaikan oleh Menteri Perindustrian Saleh Husin lewat siaran pers pada Sabtu, 28 Mei 2016.

    Dia mengatakan, penjualan kopi olahan lewat jalur ekspor pada 2015 tercatat sebesar USD 356,79 juta atau meningkat 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yang tersebar ke negara tujuan ekspor, seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, China dan Uni Emirat Arab.

    “Gaya hidup mendorong volume dan pola konsumsi. Pemilik pabrik terus merilis produk terbaru. Yang untung petani dan pengolah kopi. Sedangkan konsumen seperti dimanjakan oleh banyaknya pilihan,” ujarnya saat mengunjungi pabrik kopi olahan PT Santos Jaya Abadi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 27 Mei 2016.

    Secara khusus, Menperin juga mengapresiasi para barista dan pemilik kedai kopi skala kecil, menengah hingga besar yang dengan kreativitasnya terus melahirkan menu-menu anyar.

    Ada belasan kopi specialty asal Indonesia yang telah dikenal di dunia, termasuk kopi luwak. Saat ini sudah ada 12 kopi Indonesia yang telah mempunyai indikasi geografis, yaitu Kopi Arabika Gayo, Sumatera Arabika Simalungun Utara, Robusta Lampung, Arabika Java Preanger, Java Arabika Sindoro-Sumbing, Arabika Ijen Raung, Arabika Kintamani Bali, Arabika Kalosi Enrekang, Arabika Toraja, Arabika Flores Bajawa, Liberika Tungkal Jambi dan Kopi Robusta Semendo asal Sumatera Selatan.

    Dari sisi produksi kopi, Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan produksi rata-rata sebesar 685 ribu ton pertahun atau 8,9 persen dari produksi kopi dunia.

    Guna mendorong peningkatan bisnis kopi Tanah Air, pemerintah memfasilitasi melalui beberapa kebijakan pemberian fasilitas pajak penghasilan sesuai dengan PP No.18 Tahun 2015 untuk investasi baru industri pengolahan kopi di beberapa daerah di luar Jawa.

    Selain itu, harmonisasi tarif bea masuk (MFN) produk kopi olahan (kopi sangrai, kopi bubuk, kopi instan, kopi mix) awalnya 5% naik menjadi 20% melalui Peraturan Menteri Keuangan No.132 Tahun 2015. Harmonisasi tarif ini dimaksudkan untuk memberikan iklim usaha yang kondusif bagi industri pengolahan kopi di dalam negeri.

    Sebelumnya, pemerintah telah memberlakukan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kopi Instan secara wajib yang mulai berlaku secara efektif per Januari 2016 sesuai Peraturan Menteri Perindustrian No. 87/M-IND/PER/10/2014.

    Saat ini, industri dalam negeri baru mampu menyerap sekitar 35 persen untuk memproduksi kopi olahan dan sisanya masih diekspor dalam bentuk biji.

    Seperti diketahui, konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai 1,2 kg per kapita per tahun jauh dibawah negara–negara pengimpor kopi lainnya, seperti Amerika Serikat sebesar 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 Kg dan Finlandia 11,4 Kg per kapita per tahun.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara