Selasa, 21 Agustus 2018

Cerita Sophia Latjuba Ngamuk Saat Diatur Pakai Baju

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Sophia Latjuba berpose jelang proses syuting film terbarunya

    Artis Sophia Latjuba berpose jelang proses syuting film terbarunya "Aku dan Harapanku" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2015. Hasil penjualan tiket film ini akan disumbangkan ke yayasan kanker melalui Bracelet of Hope. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.COJakarta - Sophia Mueller, atau dulu dikenal dengan nama Sophia Latjuba, menceritakan kekesalannya saat sebuah stasiun televisi mengatur tentang cara berbusananya. "Saya diundang ke sebuah acara di stasiun televisi, lalu saya ditanya, nanti pakai baju apa?" kata Sophia saat berkunjung ke kantor Tempo, Selasa, 17 Mei 2016.

    Saat itu Sophia mengatakan akan mengenakan pakaian tanpa lengan. Mengetahui hal tersebut, pihak stasiun televisi itu melarangnya mengenakan pakaian yang dipilih Sophia dan menyebutkan sejumlah aturan berpakaian untuk acara tersebut. Beberapa aturannya antara lain tidak boleh mengenakan pakaian model sabrina, apalagi kemben. 

    "Pakaian yang satu sentimeter di atas lutut saja sudah di-blur," katanya. "Kalau laki-laki kok boleh pakai celana pendek?" Sophia lantas memprotes aturan tersebut. Namun, menurut dia, seperti tak ada hasilnya karena hanya Sophia yang memprotes. Beberapa orang bahkan meminta Sophia menerima saja persyaratan yang diminta.

    Baca juga:
    Karyawati Diperkosa & Dibunuh: 31 Adegan, Pelaku Sempat Bercumbu 
    Pembunuhan Karyawati, Tersangka Pernah Belajar di Pesantren

    Sophia lantas mengungkapkan kekesalannya karena kebanyakan orang memilih diam meski mereka tahu ada yang salah. "Di mana kebebasan berekspresi?" ujarnya. "Kita kelamaan dijajah oleh orang kita sendiri. Jadi sudah tidak tahu bagaimana bersuara." Padahal perubahan itu, menurut Sophia, datang dari orang yang mau menyuarakan pendapatnya, termasuk komplain ketika melihat ada kejelekan dan bergerak untuk memperbarui.

    Selain soal kebebasan berekspresi, Sophia menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap masyarakat yang semakin rendah toleransinya. Perempuan yang lahir dan besar di Jerman ini menuturkan, hal yang terpenting saat ini adalah empati.

    “Saya tidak percaya dengan analogi masyarakat Indonesia memegang budaya ketimuran,” ujarnya. Contoh sederhananya, Sophia mengatakan, orang cuek ketika meninggalkan kloset di toilet umum yang telah dipakainya dalam keadaan kotor, juga membuang sampah sembarangan. 

    Mereka, Sophia melanjutkan, tidak memikirkan bagaimana orang lain setelahnya yang hendak menggunakan toilet umum itu dan dampak dari membuang sampah sembarangan. “Orang sekarang cenderung egois dan kurang empatinya,” katanya.

    AKMAL IHSAN | RINI K

    Baca juga:
    Karyawati Diperkosa & Dibunuh: 31 Adegan, Pelaku Sempat Bercumbu 
    Pembunuhan Karyawati, Tersangka Pernah Belajar di Pesantren


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Daftar Prestasi Defia Rosmaniar Peraih Emas Pertama Indonesia

    Defia Rosmaniar punya sederet prestasi internasional sebelum meraih medali emas Asian Games 2018.