Anak Kembar, Jangan Panggil Mereka 'Kakak-Adik'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepasang anak kembar berpose dalam Festival Anak Kembar di Pleucadeuc, Prancis, Jumat 15 Agustus 2014. FRED TANNEAU/AFP/Getty Images

    Sepasang anak kembar berpose dalam Festival Anak Kembar di Pleucadeuc, Prancis, Jumat 15 Agustus 2014. FRED TANNEAU/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar tumbuh kembang anak dr Fitri Hartanto SpA (K) mengingatkan orang tua yang memiliki anak kembar agar menghindari panggilan "kakak" dan "adik" kepada buah hatinya.

    "Jangan panggil 'kakak-adik'. Kalau anak yang satu dipanggil 'kakak', ya, satunya juga 'kakak'. Kalau (memanggil) 'adik', ya, panggil semuanya 'adik'," katanya di Semarang.

    Hal tersebut diungkapkannya di sela "parenting class" bertajuk "Bagaimana Memanfaatkan Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Supaya Optimal" yang diselenggarakan RSIA Kusuma Pradja Semarang. "Parenting class" merupakan agenda bulanan RSIA Kusuma Pradja Semarang yang dikemas dengan tema berbeda untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, dengan mengundang pakar di bidangnya.

    Dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, Fitri menjelaskan sapaan "kakak" dan "adik" menunjukkan adanya perlakuan yang berbeda sebab ada salah satu pihak yang harus mengalah. Apalagi, kata dia, jika perlakuan orang tua terhadap mereka juga demikian, seperti menyuruh si "kakak" untuk mengalah demi adiknya yang merupakan saudara kembarnya, bukan kakak atau adiknya.

    "Ini akan menimbulkan persepsi di antara mereka (anak kembar), siapa di antara mereka yang lahir duluan. Padahal, selama dalam kandungan mereka terbentuk secara sama," katanya. Selain itu, Fitri mengatakan orang tua juga tidak harus selalu membelikan barang-barang yang sama persis terhadap anak kembarnya, seperti warna dan model karena kesukaan mereka bisa saja berbeda.

    "Sesuaikan saja keinginan mereka. Kalau mereka ingin, misalnya, baju yang sama persis, ya berikan yang sama. Kalau ingin baju berbeda, ya biarkan berbeda," katanya. Orang tua, lanjut dia, tugasnya mendampingi anak-anak dengan tidak memaksakan keinginan anak, tetapi tidak juga memanjakan karena akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan perilakunya.

    "Sebagai orang tua, ya harus mendampingi anak. Kalau keputusan yang diambil anak ternyata salah, orang tua harus menunjukkan kepada anak bahwa itu (perbuatannya) salah," ujarnya.

    BISNIS

    Baca juga:
    3 Trik Padu Padan Batik
    Memilih Karpet, Gampang-gampang Susah
    Perempuan Lebih Rentan Terkena Hipertensi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.