Hotdog Buntut Panjang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menu Long Tail Hotdog di Three house Cafe di Jalan Hasnudin, Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Menu Long Tail Hotdog di Three house Cafe di Jalan Hasnudin, Bandung, Jawa Barat. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COJakarta - Tree House Cafe di Jalan Hasanuddin Nomor 5, Bandung, Jawa Barat, mempunyai satu hidangan andalan, yakni Long Tail Hotdog. Sempat terpikir apa maksudnya long tail. Tapi, setelah disajikan, memang membuat terpana. 

    Panjang roti yang disisipi daging sapi dan di atasnya diolesi dengan mayones dan saus tomat dibentuk zig-zag tersebut sekitar 30 sentimeter. Jelas perlu nafsu besar dan rongga perut yang kosong untuk menghabiskan sendirian.

    Long Tail menjadi semacam ikon Tree House Cafe, Bandung. Sejak dibuka, kafe yang berada di dekat Jalan Dago tersebut memang menonjolkan menu sosis hasil olahan pemiliknya.

    Sajian di resto ini kebanyakan berselera Barat. Selain sosis, ada steak, piza, dan spageti. Beberapa hidangan utama lain adalah Captain Sirloin, Beef Cordon Bleu, dan Big Banger Sausage. Adapun masakan lokalnya antara lain nasi timbel lengkap yang digemari wisatawan Jakarta, nasi goreng yang suka dipesan rombongan turis Singapura dan Malaysia, sop buntut kuah, ayam penyet, serta iga bakar.

    Selain itu, ada beberapa sajian unik yang layak dinikmati sambil bersantai, bahkan bermalas-malasan, di tempat bersuasana rumahan itu. Kopi bakar, misalnya, memberi sensasi berbeda ketika menyeruput cappuccino dengan rasa hazelnut

    Sebelum siap diminum, pelayan terlebih dulu membakar bagian atas kopi yang ditaburi gula pasir putih dan bubuk gula merah dengan tabung gas genggam. Pembakaran selama 10 detik itu menyulap gula menjadi karamel cokelat kehitaman yang mengapung di atas kopi. Mantap.

    Ada pula Hug Mug, minuman hangat yang disuguhkan dengan cangkir keramik berwarna putih. Bentuknya lonjong tanpa kuping pegangan. Cara minumnya ditangkup, serasa memeluk kehangatan dengan kedua telapak tangan. Minuman pengusir dingin itu berasal dari es krim yang dipanaskan dengan pilihan rasa teh hijau, cokelat, dan vanili.

    Tak sedikit pengunjung yang nongkrong dari pagi sampai sore. Tempatnya juga menyenangkan. Menurut Ari, nama tree house diambil dari kondisi tempat kafe dan sekitarnya yang teduh dinaungi pepohonan besar berusia puluhan tahun, sehingga memang cukup rindang dan tenang.

    Selain tempat makan di dalam bangunan, di Tree House Cafe ditawarkan cara menikmati makanan sambil bersantai di halaman. Di sisi samping kanan, ada sepasang saung atau gazebo. Lucunya, guna menghindari "penyalahgunaan" oleh pasangan kekasih, pengelola kafe mensyaratkan tempat itu minimal untuk empat orang.

    Sementara itu, di samping kiri yang ditata lebih terbuka, terdapat area bersantap di taman dengan kolam berisi belasan ikan koi. Ada juga lokasi di mana anak balita bisa makan sambil duduk di kursi ayun yang digantung di teras depan pintu masuk, naik ke rumah pohon kecil, atau menjajal flying fox mini.

    Ruangan terasa sejuk karena angin bebas keluar-masuk lewat pintu dan jendela yang cukup besar. Mesin penyejuk udara hanya dipasang di ruang rapat kecil yang sanggup menampung 15-20 orang. Di bagian belakang terdapat musala kecil dengan keran wudu unik. Airnya mengalir lewat poci keramik yang dipasang miring ke bawah. Siapa yang tak betah berlama-lama di tempat seperti itu di salah satu urat nadi Kota Bandung?

    KORAN TEMPO

    Baca juga:
    Move On Setelah Putus Cinta? Basi!
    Rahasia Es Krim Dondurma yang Bikin Ketawa
    Cara Aman Makan Nasi tanpa Khawatir Kalori dan Gula


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara