Komunitas Pencinta Kain di Surabaya Belajar Jumputan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja menjemur kain Jumputan yang telah dibuat di kawasan Penumping, Surakarta, Jawa Tengah, 27 Agustus 2015. Kain Jumputan tersebut dijual dengan harga 55 ribu hingga 200 ribu per dua meternya yang dijual ke pulau Jawa hingga Kalimantan. Bram Selo Agung/Tempo

    Pekerja menjemur kain Jumputan yang telah dibuat di kawasan Penumping, Surakarta, Jawa Tengah, 27 Agustus 2015. Kain Jumputan tersebut dijual dengan harga 55 ribu hingga 200 ribu per dua meternya yang dijual ke pulau Jawa hingga Kalimantan. Bram Selo Agung/Tempo

    TEMPO.COSurabaya - Sekitar lima belas perempuan duduk melingkar di antara lapak pameran batik Surabaya Fashion Parade 2016, Kamis, 12 Mei 2016. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari di Convention Center Tunjungan Plaza, Surabaya itu tampak dipadati pengunjung. 

    Perempuan-perempuan itu tampak sibuk dengan selembar kain putih dan tali rafia berwarna kuning. Setelah Tempo dekati, rupanya ibu-ibu yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Kain itu sedang belajar membuat batik jumputan. "Iya, ini ternyata susah banget ngiketnya," kata Windrati, Ketua Komunitas.

    Windrati mengeluhkan sulitnya mengencangkan ikatan tali pada kain untuk membentuk pola batik. Dengan dipandu oleh Anti, yang juga anggota Komunitas, Windrati berusaha membuat pola sebaik mungkin. Tindakan yang sama juga dilakukan oleh peserta lain.

    Jumputan merupakan salah satu corak kain yang dimiliki Indonesia selain batik dan tenun. Windrati mengatakan Komunitas Pencinta Kain ini berusaha menghargai kain khas Indonesia. Salah satunya dengan menggunakan kain tanpa jahitan di acara-acara penting. "Kami dari berbagai profesi, tapi kumpul jadi satu ingin melestarikan kain Indonesia," ujar Windrati.

    Windrati menjelaskan, setiap kain tradisional khas berbagai daerah di Indonesia memiliki cerita dan filosofi yang beragam. Satu kain, kata dia, merupakan satu rangkaian cerita. Jadi, apabila kain itu dipotong, akan memotong cerita. "Sayang juga, bikinnya susah. Ini saya bikin jumputan juga susah," ujar Windrati sambil tetap sibuk membentuk jumputan berbentuk bola-bola kecil.

    Komunitas Pencinta Kain berdiri di Surabaya pada akhir Desember 2015. Mereka saling bertukar informasi tentang kain Indonesia. Beberapa kali juga mengadakan acara kumpul bersama seperti kegiatan yang diselenggarakan di Tunjungan Plaza, Surabaya dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Surabaya.

    SITI JIHAN SYAHFAUZIA

    Baca juga :
    Resep Tongseng Kambing Pedas
    Jangan Abaikan Tiga Kebutuhan Penting dalam Hidup
    Pilot Cantik Patricia: Cerita Minyak Telon dan High Heels


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.