Kiat Sukses 'Menginterogasi' Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak tantrum/sedih. Shutterstock.com

    Ilustrasi anak tantrum/sedih. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Anda mendapat laporan si Buyung bertengkar dan memukul temannya di sekolah. Atau sebaliknya, dia menjadi korban bullying di tempat ia menimba ilmu.

    Memberondongnya dengan pertanyaan yang memojokkan sepulang ia sekolah tentu bukan hal yang bijaksana. Sementara di sisi lain, dia memilih mengunci mulutnya rapat-rapat dan langsung masuk kamar.

    Apa yang akan Anda lakukan?

    Masalah di atas akan sering muncul terutama saat anak-anak kita memasuki usia praremaja. Berbeda dengan saat ia kecil yang akan mengobrolkan apa pun dengan kita, kini ia mulai enggan.

    Majalah Parent Link Kanada berbagi tip soal cara mengorek informasi dari anak tanpa membuat ia merasa tengah “diinterogasi”, seperti yang diresepkan oleh Detektif Polisi Lori Haggett dari Divisi Eksploitasi Anak dan Perlindungan Korban di Kepolisian Kanada.

    Cari Waktu yang Tepat untuk Berbicara

    Mencoba untuk berkomunikasi dengan anak saat menonton televisi adalah langkah yang keliru. Waktu yang efektif untuk memulai percakapan adalah di meja makan. Mulai berbicara tentang sesuatu hal yang ringan. Setelah anak menjadi cerewet dan membuka diri, belokkan percakapan dengan topik yang ingin Anda bicarakan.

    Gunakan Bahasa yang Sesuai

    Jangan memberondongnya dengan pertanyaan panjang. Sebaliknya, gunakan pertanyaan yang singkat dan jelas. Untuk beberapa alasan, anak-anak kerap kurang memahami bahasa orang tua. Gunakan beberapa kata sebagai gantinya. Mereka juga menggunakan bahasa yang tak Anda pahami. Mintalah ia menjelaskan secara rinci maksudnya untuk menghindari salah paham.

    Jauhkan Pertanyaan yang Membuatnya Terpojok dan Bungkam

    Begitu ia mulai berbicara, doronglah untuk berbicara secara terbuka. Tunjukkan kepadanya bahwa Anda berada di pihaknya, bukan sebaliknya.

    Jeda Panjang Sangat Efektif

    Teknik ini banyak digunakan oleh wartawan investigasi. Setelah mengajukan pertanyaan dan menerima jawaban singkat, tahan mulut Anda, jangan mengatakan apa-apa. Keheningan yang tidak nyaman ini akan memaksa orang yang sedang diwawancarai untuk menyatakan sesuatu hal yang penting secara tidak sengaja.

    Mendengarkan, Mendengarkan, dan Mendengarkan

    Ketika anak mulai berbicara, Anda harus benar-benar mendengar apa yang dia katakan. Biarkan mereka tahu Anda menyimak dengan mengatakan ulang kata-katanya dengan bahasa Anda sendiri. Pastikan Anda tidak menyalip percakapan. Ingat, tujuannya adalah agar dia berbicara, dengarkan saja sampai dia menyelesaikan penjelasannya.

    Buatlah Percakapan Senyaman Mungkin

    Seorang anak yang berbicara tentang topik orang tua kerap tidak nyaman atau tidak siap untuk mendengarkan. Jika ia terlibat dengan bullying, narkoba, atau pornografi, Anda harus siap untuk mendengarkan dan menanggapinya tanpa penghakiman.

    Asal tahu saja, alasan utama anak-anak tidak berbicara dengan orang tua mereka adalah ketakutan mereka dihakimi. Hal terbaik yang dapat Anda lakukan, kata Haggett, adalah menunjukkan bahwa tidak peduli apa yang mereka lakukan, Anda akan selalu mencintai mereka.



    INDAH P.

    Baca juga:
    Yuk, Ajari Anak Mengelola Uang
    6 Tipe Pola Asuh Ibu Zaman Modern
    Kapan Anak Boleh Main Gadget?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.