Rabu, 12 Desember 2018

Berkorban Demi Cinta, Untung atau Rugi?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan. Guang Niu/Getty Images

    Ilustrasi pasangan. Guang Niu/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Mencintai seseorang dan berkomitmen untuk menikah dengannya bukan berarti Anda akan selalu membahagiakannya atau Anda berharap senantiasa mendapat kegembiraan bersamanya. Menikah berarti hidup untuk berbahagia bersama. Intinya, hubungan yang sehat tidak menuntut pengorbanan salah satu, melainkan kedua pihak.

    Anggia Chrisanti, konselor dan terapis Deep Psych Tapping Technique (DEPTH) dari Biro Konsultasi Psikologi Westaria, membagi triknya agar kita terhindar dari kemungkinan hubungan tidak sehat atau selalu berkorban tanpa rasa bahagia.

    1. Selamatkan dirimu
    Mengutip arahan pramugari pada setiap penerbangan sebelum pesawat lepas landas, yaitu bagi yang membawa anak, gunakan masker untuk diri sendiri, baru bantu anak menggunakannya.  Artinya, pastikan tentang “keselamatan” diri pribadi, baru berpikir tentang keselamatan orang lain.

    Jangan bersikap konyol dengan mencoba  berkorban dan menjadi pahlawan bagi orang lain, sekalipun orang terdekat atau terkasih, saat kita tidak yakin akan keselamatan dan kebahagiaan diri sendiri.

    2. Lakukan karena mau dan mampu
    Jika berharap dunia berlaku adil karena Anda telah bersikap adil, maka Anda sedang membodohi diri sendiri. Ini seperti berharap singa tidak memakan Anda, hanya karena Anda tidak memakannya.

    Artinya, berbuat baik dan benar memang harus dilakukan dan karena kita mau melakukannya. Lalu ukur diri bahwa kita memang mampu melakukannya. Jangan melakukan sesuatu karena apa dan siapa, sehingga tidak akan pernah timbul penyesalan atau harapan akan timbal balik.

    Begitu juga dengan pengorbanan. Lakukan jika Anda merasa itu pantas dilakukan atau memang harus dilakukan. Selain itu, kita mau dan mampu melakukannya tanpa berharap balasan.

    3. Sabar tidak berbatas, pengorbanan berbatas
    Pengorbanan adalah buah dari pembelajaran, karena di dalamnya ada proses berpikir baik dan benar. Oleh karenanya, belajar berkorban juga berarti belajar untuk tidak berkorban. Ini cenderung sulit dilakukan, terutama oleh orang Indonesia yang punya tradisi manut dan nrimo.  Padahal belajar melepaskan sesuatu yang tidak patut dipertahankan adalah pengorbanan juga.

    4. Bebas dan bahagia
    Melakukan yang Anda sukai itu kebebasan. Dan, menyukai yang Anda lakukan itu kebahagiaan. Terlepas dari benar-salah, baik-buruk, dan pantas atau tidak pantas, tentu pada dasarnya kita berhak dan bebas melakukan apapun yang kita ingin lakukan.

    Namun demikian, saat tujuan akhir kehidupan adalah bahagia yang hakiki, maka apa yang kita lakukan seharusnya bisa membuat kita dan orang lain bahagia. Apapun, termasuk pengorbanan, menjadi sah saja selama itu membuat kita bahagia.

    TABLOIDBINTANG

    Baca juga:
    Normalkah Durasi Bercinta Anda?
    Awas, Jangan Nikahi Wanita Karir karena...
    Kiat bagi Para Lajang Tebar Pesona di Media Sosial


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.