Yuk, Ajari Anak Mengelola Uang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi celengan.

    Ilustrasi celengan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gampang-pampang susah mengajarkan tentang uang dan cara mengelolanya pada anak. Susah, tentu saja, jika Anda sendiri pun bukan orang yang pandai mengelola uang, alias sedikit boros.

    Di Amerika Serikat berdasar sebuah survei, hampir tiga perempat dari orang tua merasa sedikit enggan untuk membahas topik ini dengan anak mereka. Di satu sisi, mereka merasa tidak memiliki kepiawaian dan di sisi lain mereka yakin seiring bertambah usia, anak akan dengan sendirinya bisa mengatur pengeluarannya.

    Namun, menurut penulis buku laris Get a Financial Life dan Make Your Kid a Money Genius (Even If You're Not) Beth Kobliner,  keterampilan mengelola uang harus diajarkan sejak dini. Hal ini penting agar anak menghargai uang dan tidak menjadi pemboros di kemudian hari.

    Berikut ini tiga tips dari Kobliner, seperti dituangkan di situsnya, www.bethkobliner.com:

    Dari mana uang berasal?

    Seperti pertanyaan tentang dari mana adik bayi berasal, pertanyaan tentang dari mana asal uang juga kerap menggelitik seorang anak. Tak sedikit anak yang meyakini uang berasal dari mesin ATM, sehingga banyak anak yang bercita-cita memiliki mesin ATM sendiri di rumahnya.

    Katakan pada anak Anda, uang adalah sesuatu yang kita hasilkan dengan bekerja. Itu sebabnya, uang harus dikelola dan dibelanjakan secara bijak. Sesekali, ajak anak Anda ke tempat kerja agar sang anak tahu apa saja yang Anda lakukan seharian untuk menghasilkan uang bagi keluarga.

    Namun, Kobliner menyarankan untuk tidak menceritakan secara mendetail sejarah keuangan Anda sendiri, termasuk besar gaji Anda. Mengapa? Harap diingat anak-anak itu tidak bisa menyimpan rahasia. Bisa jadi besar gaji Anda tersebar hingga ke kampung tetangga.

    Mengapa ibu dan ayah tak mau membelikan mainan yang itu padahal aku sangat ingin dan akan mati jika tak memilikinya?

    Katakan bahwa tak membelikan sesuaatu pada anak bukan karena ayah dan ibu kejam.  Mainan itu terlalu mahal sehingga ayah dan ibu tidak mampu membelinya.

    Setelah amarahnya reda, ambil nafas dan jelaskan bahwa Anda memiliki anggaran keluarga, yang benar-benar berisi sebuah rencana tentang bagaimana uang keluarga dibelanjakan. Kebutuhan adalah yang utama dan keinginan hanya bisa dipenuhi jika kebutuhan sudah tercukupi. Sebutkan bahwa susunya adalah kebutuhan utama, dan baju yang dia pakai adalah yang kedua. Penjelasan lain bisa disesuaikan dengan kondisi yang Anda alami.

    Hal penting lainnya adalah, ketika pergi berbelanja ke supermarket, kasih tahu anak Anda berapa uang yang akan dibelanjakan saat itu. Akan lebih baik jika Anda membawa uang tunai dan bukan kartu debit atau kartu kredit. Ajak anak untuk menyusun daftar belanjaan berikut perkiraan uang yang akan dikeluarkan.  Saat berbelanja, biarkan anak membandingkan harga masing-masing barang untuk memilih harga yang terbaik.

    Mengapa harus menabung di celengan? uang sakuku kan jadi berkurang!

    Menabung mengajarkan anak untuk berhemat dan cermat mengelola uang. Ajarkan pada anak bahwa menyisihkan sedikit uang saku akan berguna di kemudian hari ketika tabungan sudah banyak. Pengalaman pertama menabung di celengan harus menjadi pengalaman berharga buatnya. Ketika celengan sudah penuh dan dibuka, belanjakan semua untuk hal yang sangat diimpikannya, semisal membeli sepeda atau tas sekolah.

    Ketika anak sudah cukup besar, buatkan untuknya rekening tabungan. Mencetak uang di buku tabungan tiap bulan betul-betul akan menjadi hal yang menyenangkan buatnya.

    Namun yang terpenting dari semua itu, adalah Anda belajar mengelola uang dengan cukup baik juga. Akan percuma jika mengajari anak Anda untuk tidak jadi pemboros sementara Anda gemar menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tak begitu diperlukan dan tak bisa membedakan keinginan dengan kebutuhan.

    INDAH P


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).