Ingin Lebih Pulas, Coba Olahraga Dua Jam Sebelum Tidur

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita lari di atas treadmill. Freepik.com

    Ilustrasi wanita lari di atas treadmill. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ingin tidur lebih nyenyak? Cobalah olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dua jam sebelum tidur. Para peneliti di Universitas Concordia, Kanada, mengatakan bahwa ada kaitan antara olahraga intensitas tinggi dengan kualitas tidur. 

    Dikutip dari Healthline, Rabu, 13 Oktober 2021, para peneliti menemukan bahwa berolahraga dua jam atau lebih sebelum tidur dapat membuat seseorang akan tertidur lebih cepat dan tidur lebih lama. Akan tetapi, olahraga yang dilakukan menjelang waktu tidur memiliki dampak negatif yakni menyebabkan seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan tidur dalam waktu yang lebih singkat.

    Untuk melakukan penelitian, tim melakukan tinjauan literatur yang berhubungan dengan topik ini di enam database ilmiah utama. Mereka mampu mengidentifikasi total 15 percobaan yang melibatkan 194 orang.

    Menurut mereka, ketika olahraga berakhir setidaknya dua jam sebelum tidur, orang akan tertidur lebih cepat dan tidur lebih lama. Ini terutama berlaku untuk individu yang lebih banyak duduk. Namun jika olahraga kurang dari dua jam sebelum tidur, yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan tidur dalam waktu singkat.

    Latihan bersepeda adalah yang paling bermanfaat dalam membantu orang tertidur dan tidur nyenyak. Namun, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa olahraga intensitas tinggi, tidak peduli kapan itu dilakukan, sedikit menurunkan kondisi tidur rapid-eye-movement (REM).

    Tidur REM dikaitkan dengan mimpi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penurunan tidur REM mungkin memiliki efek negatif pada tugas kognitif.

    Seorang profesor di bidang olahraga dan ilmu olahraga dari Wayne State University's College of Education, Tamara Hew-Butler, mengatakan latihan intensitas tinggi menyebabkan respons sistem saraf simpatik yang kuat atau dikenal dengan respons melawan atau lari. Respons melawan adalah respons bertahan hidup yang dimiliki tubuh dalam menghadapi ancaman baik yang nyata atau yang dirasakan. Efeknya adalah meningkatnya detak jantung, tekanan darah,serta laju pernapasan.

    Respons fisiologis yang sama ini dipicu oleh olahraga yang intens, membuat seseorang siap untuk bertindak, bukan tidur. Hew-Butler mengatakan banyak orang berpikir bahwa latihan intensitas tinggi yang dilakukan dalam waktu sekitar tiga jam sebelum tidur dapat mengganggu tidur, terutama tertidur karena meningkatkan gairah, suhu inti tubuh, stres, dan hiperaktif simpatik.

    Lebih lanjut Hew-Butler menjelaskan ini juga dapat menyebabkan penundaan fase dalam ritme sirkadian sehingga menyebabkan seseorang begadang dan bangun lebih lambat karena pelepasan melatonin yang tertunda, hormon yang memicu kantuk di malam hari.

    Jadi kapan waktu terbaik olahraga? Yasi Ansari, ahli gizi yang berspesialisasi dalam nutrisi olahraga dan juru bicara di Academy of Nutrition and Dietetics, menyarankan agar setiap orang menyesuaikan kebiasaan olahraga dengan tubuhnya sendiri.

    "Meskipun ada penelitian di luar sana dan rekomendasi yang didukung penelitian, penting juga bagi setiap orang untuk melihat apa yang terbaik untuk diri mereka, energi, dan kualitas tidur," lanjutnya.

    Baca juga: 5 Kunci Tidur Cukup dan Nyenyak di Malam Hari menurut Pakar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.