Suka Membeli Barang Tidak Penting? Bisa Jadi Anda Shopaholic

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi belanja / masyarakat kelas menengah.  ANTARA/Puspa Perwitasari

    Ilustrasi belanja / masyarakat kelas menengah. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Apakah Anda mengenal seseorang atau bahkan Anda sendiri menyukai kegiatan berbelanja bahkan sampai kecanduan? Hati-hati, bisa jadi itu adalah gejala shopaholic.

    Istilah shopaholic terkadang digunakan untuk menggambarkan orang yang memiliki kecanduan belanja, atau oniomania. Meskipun kecanduan masih bisa diterima secara sosial, memiliki perilaku ini dapat mengakibatkan masalah serius dalam kehidupan seseorang.

    Apa penyebab seseorang bisa menjadi shopaholic? Berikut penyebabnya dilansir dari Verywellmind.com:

    1. Ingin mendapatkan pengakuan
    Banyak ditemui pecandu belanja yang baik hati, simpatik, dan tidak kasar kepada orang lain. Seringkali kesepian dan terisolasi, pengalaman berbelanja memberikan interaksi positif kepada para shopaholic dengan tenaga penjualan dan harapan bahwa apa yang mereka beli akan meningkatkan hubungan mereka dengan orang lain. Shopaholic juga mudah terpengaruh oleh orang lain.

    2. Tidak percaya diri
    Tingkat kepercayaan diri yang rendah adalah salah satu karakteristik yang paling umum ditemukan dalam studi tentang kepribadian shopaholic. Berbelanja adalah cara untuk mencoba meningkatkan percaya diri, terutama ketika objek yang diinginkan dikaitkan dengan gambaran tentang apa yang diinginkan pembeli.

    3. Emosi yang tidak stabil
    Selain kecenderungan umum untuk ketidakstabilan emosional atau perubahan suasana hati, penelitian juga menemukan bahwa pecandu belanja sering menderita kecemasan dan depresi. Belanja sering digunakan sebagai cara untuk mengangkat semangat, bahkan untuk sementara.

    Belanja berlebihan seringkali bisa menjadi penopang untuk mengatasi emosi. Orang-orang menemukan diri mereka membeli sesuatu untuk membuat diri mereka merasa lebih baik ketika mereka sedih, stres, marah, bosan, atau takut.

    4.  Materialistis
    Penelitian menunjukkan bahwa shopaholic lebih materialistis daripada pembeli lain, tetapi ada kompleksitas dalam kecintaan mereka pada harta benda. Mereka tidak tertarik untuk memiliki sesuatu dan sebenarnya kurang terdorong untuk memperoleh harta benda daripada pembeli lain, yang menjelaskan mengapa shopaholic membeli hal-hal yang tidak mereka butuhkan.

    5. Terlena dalam fantasi
    Shopaholic memiliki kemampuan berfantasi lebih kuat daripada non-shopaholic. Para shopaholic bisa berfantasi tentang serunya berbelanja sambil melakukan aktivitas lain; mereka dapat membayangkan semua konsekuensi positif dari membeli objek yang diinginkan, dan mereka dapat melarikan diri ke dunia fantasi untuk melarikan diri dari kenyataan hidup yang keras.

    Bagaimana cara mengatasi kecanduan berbelanja?

    Anda bisa mengatasi perilaku ini dengan meningkatkan percaya diri dan kemampuan Anda untuk berhubungan dengan orang lain secara tulus, Anda akan kehilangan kepercayaan bahwa kasih sayang dan kekaguman dapat dibeli.

    Dalam menemukan apa yang sebenarnya Anda inginkan, Anda tidak perlu untuk bersembunyi di balik citra yang dipromosikan oleh iklan. Anda bisa menjadi diri sendiri dan hidup sesuai kemampuan Anda.

    Kecanduan perilaku belanja kompulsif atau shopaholic dapat diobati. Bicaralah dengan ahli kesehatan mental jika Anda yakin kebiasaan berbelanja Anda menyebabkan masalah dalam hidup Anda. 

    VALMAI ALZENA KARLA

    Baca: 7 Ciri-ciri Kecanduan Belanja atau Shopaholic, Anda Termasuk?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Biarkan Satu Teman Yang Toxic Mempengaruhi Anda

    Berikut 5 tanda persahabatan yang beracun atau Toxic friendship, perlu evaluasi apakah harus tetap berteman atau cukup sampai di sini.