Saran Dokter Jika Anak Positif Covid-19

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tya Ariestya bersama kedua anaknya, Kanaka dan Kalundra saat menjalani isolasi mandiri karena dinyatakan positif Covid-19. (Instagram/@tya_ariestya).

    Tya Ariestya bersama kedua anaknya, Kanaka dan Kalundra saat menjalani isolasi mandiri karena dinyatakan positif Covid-19. (Instagram/@tya_ariestya).

    TEMPO.CO, Jakarta - Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Tidak melihat umur, siapa saja bisa dengan mudah terinfeksi virus ini, mulai dari lanjut usia, dewasa, remaja bahkan anak-anak. Bahkan kasus positif Covid-19 pada anak meningkat. 

    Dua anak Tya Ariestya, Kanaka dan Kalundra Ratinggang, pun jadi korban. Bersama Tya yang juga dinyatakan positif, Kanaka dan Kalundra menjalani isolasi mandiri di rumah. Setelah lebih dari dua minggu, Rabu, 21 Juli 2021, Tya mengumumkan bahwa hasil tes usap mereka menunjukkan hasil negatif.

    Melanie Iskandar, dokter spesialis anak yang memantau kesehatan Kanaka dan Kalundra selama isolasi mandiri, mengatakan beberapa hal penting ketika mengetahui anak positif Covid-19, dalam Instagram Live bersama Tya, Rabu, 21 Juli 2021. Hal pertama menurut dia adalah jangan panik. Segera hubungi dokter spesialis anak untuk berkonsultasi tentang kondisi anak. Jika tidak ingin ke rumah sakit, saat ini sudah tersedia berbagai macam telemedicine yang dapat diakses dengan mudah melalui ponsel.

    Jangan pernah membuat keputusan sendiri dalam memberikan obat. Tetap ikuti resep dokter untuk menghindari pengobatan yang salah. 

    ADVERTISEMENT

    "Buat orang dewasa juga sama, jangan nyontek obat," kata Malenie. Apalagi yang masih menyusui, karena ada beberapa antivitus yang tidak boleh untuk ibu menyusui," kata dia

    Pengobatan untuk anak yang terinfeksi virus Covid-19 berbeda-beda, tergantung dari gejala yang dialami anak tersebut. Anak-anak yang memiliki gejala ringan cenderung tidak membutuhkan obat-obatan antivirus dan antibiotik. 

    Namun, jika anak memiliki penyakit bawaan sehingga cenderung memiliki gejala berat, seperti anak-anak yang punya penyakit dasar leukemia dan sedang kemoterapi, ginjal kronis, penyakit asma, ada gangguan pernapasan atau jantung bawaan.

    “Kalau kayak gitu mesti dirawat dan mendapat terapi-terapi antivirus seperti orang dewasa,” kata Melanie.

    Lain halnya pemberian antibiotik, jika anak memiliki infeksi sekunder atau demam berkepanjangan lebih dari tiga hari, mungkin saja ia terinfeksi virus atau bakteri lain yang membuatnya harus diberi antibiotik.

    Mencegah tentu akan lebih baik dibandingkan dengan mengobati. Melanie merekomendasikan beberapa suplemen untuk pencegahan atau membantu pengobatan Covid-19, yakni vitamin C, vitamin D, serta zinc dengan dosis yang disesuaikan dengan umur. Contohnya, dosis zinc untuk anak-anak di atas enam bulan sebanyak 20mg.

    Selain itu orangtua serta putra atau putrinya yang dinyatakan positif harus selalu memperhatikan protokol kesehatan baik di luar maupun ketika berada di dalam rumah. "Orang tuanya tetap harus pakai masker,” kata dia.

    Melanie juga menegaskan baik kepada anak maupun orang tua untuk segera melakukan vaksinasi. Beberapa poin yang harus diperhatikan ketika menemani anak untuk vaksinasi yaitu memastikan kondisi tubuh sehat serta memperhatikan protokol kesehatan, atau dapat menggunakan jasa layanan tanpa turun yang saat ini tersedia di beberapa tempat.

    Namun, jika anak pernah terinfeksi positif Covid-19, Melanie menegaskan untuk menunda vaksinasi. “Biarkan anak-anak punya kekebalan dulu minimal dua sampai empat minggu,” kata dia.

    Baca juga: Marak Kasus Covid-19 pada Anak, Ini 4 Tips yang Harus Dilakukan Orang Tua

    SITI HAJAR SUWARDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...