Menurut psikolog klinis anak dan remaja dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia (UI), Andini Sugeng, pemberian hadiah merupakan sebuah penyemangat bagi anak untuk menjalankan puasa.

Namun, memberikan hadiah juga harus berhati-hati. Jangan sampai hadiah itu mengalahkan tujuan utama dari berpuasa yakni beribadah.

"Boleh enggak apa-apa karena anak-anak ini kan masih di fase konkrit ya, iming-iming ini kan tujuannya untuk semangat tapi harus hati-hati ketika iming-iming ini menjadi tidak sesuai dengan yang dilakukan oleh si anak," ujar Andini kepada ANTARA pada Rabu, 14 April 2021. 

"Misalnya dari usahanya, iming-imingnya terlalu besar dan nanti malah jadi enggak berharga dan enggak berkesan," kata Andini melanjutkan.

Pemberian hadiah karena berhasil melewati masa 30 hari penuh saat Ramadan adalah hal yang wajar, bahkan kebiasaan ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu.

Akan tetapi, hadiah ini baiknya disesuaikan dengan kebutuhan sang anak, seperti untuk perlengkapan Lebaran atau persiapan menjelang tahun ajaran baru sekolah.

Baca juga: Cara Efektif Mengajarkan Berpuasa pada Anak Menurut Psikolog

"Kecil kan kita suka dikasih iming-iming, enggak apa-apa tapi pakai syarat. Misalnya gini, hadiahnya pas Lebaran ya karena dibutuhkan anak itu, entah baju tapi bukan berarti Lebaran harus baju baru," kata Andini.

"Tapi bersamaan juga dengan Lebaran kan mau mendekati tahun ajaran baru, bisa juga disesuaikan dengan itu juga. Yang penting tidak membuat anak pengin puasa karena mau dapat hadiah," ujar  Andini.