Perempuan yang WFH Jangan Bekerja Sampai Larut Malam, Berisiko Kanker Payudara

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi lembur.

    ilustrasi lembur.

    TEMPO.CO, Jakarta - Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kerap membuat orang lupa waktu. Mengerjakan tugas sejak pagi, diseling istirahat sejenak, makan, bekerja lagi, lalu tiba-tiba sudah malam. Dengan alasan tanggung atau hasil pekerjaan ditunggu segera besok pagi, tak jarang orang bablas bekerja sampai larut malam.

    Bagi para perempuan, para ahli menyarankan agar tidak bekerja lembur atau mengambil shift malam dalam jangka panjang. Aktivitas ini meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, terutama kanker payudara.

    Hasil penelitian yang terbit dalam jurnal American Association for Cancer Research, Cancer Epidemiology, Biomarkers and Prevention menyebutkan, perempuan yang bekerja pada malam hari memiliki risiko terserang berbagai penyakit, seperti kanker payudara, kanker kulit, dan kanker gastrointestinal.

    Ahli onkologi di Universitas Sichuan, Chengdu, Cina, Xuelei Ma menyatakan, penelitian ini dilakukan sebagai jawaban atas studi terdahulu. Studi sebelumnya berfokus pada hubungan antara wanita yang bekerja pada malam hari dan risiko terkena kanker payudara. Hanya, kesimpulannya tak konsisten. Untuk memperkuat penelitian sebelumnya, Ma dan rekannya menganalisis kerja shift malam jangka panjang pada wanita.

    Tak hanya dengan kanker payudara, mereka juga mengaitkannya dengan risiko sebelas jenis kanker. Mereka melakukan metaanalisis menggunakan data dari 61 artikel. Tiap artikel terdiri atas 114.628 kasus kanker serta 3.909.152 peserta dari Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Asia. Artikel tersebut terdiri atas 26 studi kohort atau studi dengan dua atau lebih kelompok orang yang memiliki karakteristik serupa, 24 studi kasus kontrol, dan 11 studi kasus pembanding.

    Studi ini dianalisis untuk mengetahui hubungan antara kerja shift malam jangka panjang dan risiko terkena sebelas jenis kanker. Sebuah analisis lebih lanjut dilakukan secara khusus untuk melihat kerja shift malam jangka panjang dan risiko enam jenis kanker di antara perawat wanita. Secara keseluruhan, bekerja pada malam hari dalam jangka panjang di kalangan wanita ternyata bisa meningkatkan risiko terkena kanker hingga 19 persen.

    Ilustrasi Perawat. REUTERS/Benoit Tessier

    Menurut para peneliti, perempuan yang bekerja pada shift malam memiliki peningkatan risiko kanker kulit sekitar 41 persen, kanker payudara 32 persen, dan kanker gastrointestinal 18 persen. Hasil ini didapat dengan membandingkan wanita yang tidak melakukan pekerjaan shift malam dalam jangka panjang. Setelah melakukan stratifikasi peserta berdasarkan lokasi, Ma megatakan, peningkatan risiko kanker payudara hanya ditemukan di antara pekerja shift malam perempuan di Amerika Utara dan Eropa.

    "Kami terkejut melihat hubungan antara bekerja shift malam dan risiko kanker payudara hanya di kalangan perempuan di Amerika Utara dan Eropa," kata Ma. Menurut dia, ada kemungkinan wanita di lokasi ini memiliki tingkat hormon seksual yang lebih tinggi. Hormon semacam itu memang berkaitan positif dengan kanker payudara.

    Risiko kanker payudara meningkat pada perawat wanita yang bekerja dengan shift malam. Peningkatan risiko kanker payudara hingga 58 persen, kanker gastrointestinal 35 persen, dan kanker paru-paru 28 persen. "Dari semua pekerjaan yang dianalisis, perawat memiliki risiko terkena kanker payudara paling tinggi jika mereka bekerja shift malam," ujar Ma.

    Menurut Ma, perawat perempuan yang bekerja pada shift malam memiliki latar belakang medis dan mungkin cenderung menjalani pemeriksaan berkelanjutan. Para peneliti juga melakukan metaanalisis dosis-respons di antara studi kanker payudara yang melibatkan tiga atau lebih tingkat keterpaparan. Hasilnya, mereka menemukan risiko kanker payudara meningkat sebesar 3,3 persen untuk setiap lima tahun kerja shift malam.

    Lantas bagaimana bisa bekerja pada malam hari menyebabkan kanker payudara? Paparan cahaya pada malam hari mengurangi produksi hormon melatonin. Melatonin memperlambat penyebaran sel kanker payudara. Namun para ilmuwan tidak yakin hal itu adalah penyebab risiko kanker payudara pada pekerja malam. Mungkin juga kerja shift itu mempengaruhi risiko karena pola makan yang buruk, konsumsi alkohol tinggi, dan pilihan gaya hidup lainnya.

    Xuelei Ma melanjutkan, dengan mengintegrasikan secara sistematis sejumlah data sebelumnya, tim peneliti menemukan bahwa bekerja shift malam berkaitan dengan beberapa jenis kanker pada wanita. "Studi kami menunjukkan bahwa bekerja malam hari meningkatkan risiko kanker umum pada wanita," ucpa Ma. Hanya saja, penelitian tersebut memiliki keterbatasan, yakni kurangnya konsistensi antara studi mengenai bekerja shift malam dalam jangka panjang, bekerja pada malam hari, dan bekerja setidaknya tiga malam per bulan.

    SCIENCE DAILY | NEWS MEDICAL | FIRMAN ATMAKUSUMA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.