Jangan Anggap Remeh, Keringat Dingin Bisa Jadi Tanda Stres dan Penyakit Jantung

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keringat berlebih. shutterstock.com

    Ilustrasi keringat berlebih. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Keringat biasanya muncul saat seseorang melakukan banyak aktivitas atau sedang terpapar udara panas. Namun, keringat dingin muncul bukan karena kedua hal tersebut.

    Meski bukan diagnosis medis, keringat dingin melibatkan banyak bagian rumit dari tubuh manusia dan sebagian besar masih misteri.

    Dokter di Baylor University, Arindam Sarkar seperti dilansir dari Health, Minggu, 22 November 2020, menjelaskan bahwa berkeringat merupakan respons tubuh Anda terhadap berbagai penyebab stres internal dan eksternal termasuk pengerahan tenaga yang berlebihan.

    Tapi keringat dingin sedikit berbeda. Kondisi ini bisa digunakan untuk menggambarkan menggigil sebagai respons terhadap suatu penyakit atau pengobatan.

    Secara umum, para ahli kesehatan sepakat keringat dingin adalah saat Anda mulai berkeringat sekaligus merasa kedinginan dan ini membuat berbeda dari keringat biasa.

    Dokter di Baltimore's Mercy Medical Center, Kathryn Boling mengatakan, ada berbagai penyebab munculnya keringat dingin, tetapi umumnya, karena infeksi, demam, atau masalah kesehatan yang mendasari, seperti serangan jantung atau gula darah rendah.

    Keringat dingin bahkan bisa menjadi tanda perubahan hormonal, seperti mengalami hot flash selama menopause, penyesuaian hormon setelah kehamilan, hingga stres atau cemas.

    Dalam kasus demam, Anda mungkin akan berkeringat dingin saat demam mulai turun. Anda bisa berada dalam situasi di mana Anda benar-benar kepanasan karena demam, lalu berkeringat dan merasa kedinginan.

    Selain itu, Anda juga bisa berkeringat dingin saat berolahraga atau setelahnya, menurut dokter di Providence Saint John's Health Center, Santa Monica, California, David Cutler.

    Ini seperti dalam kasus perubahan hormon dan gula darah rendah yang dapat terjadi tanpa demam.

    "Walau jarang terjadi, keringat dingin dapat menjadi indikasi penyakit tidak menular lainnya termasuk kanker, atau bahkan dapat disebabkan oleh obat-obatan," kata dokter di Northwestern Medicine Huntley Hospital, Roshi Gulati.

    Pengobatan keringat dingin
    Dokter di University of Minnesota Medical School, Laura Miller mengungkapkan, perawatan untuk keringat dingin berdasarkan penyebab yang mendasari.

    Jadi, menurut dia, sangat penting untuk memperhatikan gejala lain yang mungkin Anda alami jika tidak merasa mengalami keadaan darurat medis, misalnya telapak tangan basah, merasa tidak nyaman atau berkeringat.

    Boling mengatakan, jika Anda demam, maka Anda bisa minum obat penurun demam untuk membantu merasa lebih nyaman. Demam dapat mengindikasikan infeksi virus, seperti flu atau COVID-19, jadi sebaiknya bicarakan dengan dokter tentang apa yang harus Anda lakukan.

    Jika Anda mengalami keringat dingin terus menerus atau disertai gejala seperti nyeri dada, kesulitan bernapas, perasaan pingsan, atau nyeri, segeralah mencari perawatan medis.

    "Keringat dingin bisa saja terjadi, tapi seharusnya tidak menjadi hal yang biasa," kata dokter di Mount Sinai Queens, Erik Blutinger.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO 7 Tips Mengajar di Masa Pandemi Covid-19

    Pandemi akibat wabah virus corona memaksa siswa berdiam di rumah. Mendikbud Nadiem Makarim memiliki 7 tips mengajar di masa pandemi Covid-19.