The Body Shop Indonesia Kampanye Pengesahan RUU PKS, Tak Khawatir Soal Bisnis?

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana The Body Shop di Plaza Senayan, Jakarta Selatan saat libur Natal dan weekend sale pada Senin, 25 Desember 2017 (Tempo/Andita Rahma)

    Suasana The Body Shop di Plaza Senayan, Jakarta Selatan saat libur Natal dan weekend sale pada Senin, 25 Desember 2017 (Tempo/Andita Rahma)

    TEMPO.CO, JakartaThe Body Shop Indonesia mengumumkan kampanye guna mendesak pengesahan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual atau RUU PKS. Sebagaimana kita ketahui, tak banyak perusahaan yang mau terjun langsung dan bersikap dalam urusan politik atau mengambil posisi dalam sebuah kebijakan.

    Apakah Body Shop tidak khawatir ditinggalkan oleh pelanggan mereka karena dianggap terlalu lantang bersuara? Tentu manajemen Body Shop sudah memperhitungkan risiko bisnis yang akan mereka hadapi.

    CEO The Body Shop Indonesia Aryo Widiwardhono mengingatkan kembali filosofi bisnis Body Shop yang ditanamkan oleh pendirinya, Anita Roddick. "Filosofi bisnis kami bukan cuma jualan. Kami tetap bertanggung jawab dan bermanfaat untuk siapa saja," kata Aryo dalam konferensi pers virtual The Body Shop Indonesia: Semua Peduli, Semua Terlindungi Stop Sexual Violence Sahkan RUU PKS pada Kamis, 5 November 2020.

    Aryo menjelaskan bahwa bisnis juga mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat. "Kami bukan hanya ingin membuat kalian looks good, feels good, but we're doing good too," kata dia. "Aktivisme adalah DNA kami. Dan itu sudah terbukti dari berbagai kampanye yang pernah kami lakukan."

    Beberapa kampanye The Body Shop Indonesia yang berhasil dilakukan terkait isu hak asasi manusia, khususnya perempuan dan anak antara lain Stop Violence at Home dan Stop Child Trafficking. Dalam kampanye Stop Violence at Home, Body Shop bersama Komnas Perempuan mendesak pemerintah menerbitkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga dan mendukung didirikannya 16 Women Crisis Center melalui penjualan produk. Kampanye Stop Child Trafficking pada 2009-2012, Body Shop bersama ECPAT Indonesia mendesak pemerintah untuk meratifikasi undang-undang perlindungan anak.

    Aryo melanjutkan, The Body Shop di setiap negara juga punya kampanye untuk isu lokal mereka. Misalkan di India, Hong Kong, Korea Selatan, dan Australia. "Dan di Indonesia kami kampanye untuk pengesahan RUU PKS," ucapnya.

    Owner and Executive Chairwoman The Body Shop Indonesia, Suzy Hutomo mengatakan kewaspadaan terhadap isu kekerasan seksual membutuhkan perhatian seluruh lapisan masyarakat. "Ada yang bilang, 'biar saja itu urusan para feminis'. Yang penting sekarang kita bersama-sama menyadari bahwa kondisi kekerasan seksual ini sudah darurat," katanya.

    Menurut Suzy Hutomo, ini adalah kesempatan bagi siapa saja untuk mendesak RUU PKS agar segera disahkan. Caranya, dengan menandatangani petisi di situs resmi The Body Shop Indonesia sampai berdonasi. "Dalam setahun ada sekitar tiga juta orang masuk ke toko kami, baik offline maupun online," ucaap Suzy Hutomo. "Kepada mereka, kami ingin membawa apa yang kami punya, yakni supaya RUU PKS segera disahkan."

    Mengenai kekhawatiran kehilangan pelanggan, Suzy Hotomo menjelaskan The Body Shop Indonesia berjejaring, melakukan mediasi, dan berkolaborasi dengan banyak pihak. "Cukup banyak teman-teman yang mendukung dan yang paling penting adalah kita harus peduli," katanya. Dari situ, Suzy mempersilakan pelanggan mengidentifikasi karakter Body Shop.

    Aryo Widiwardhono melanjutkan, The Body Shop Indonesia terbuka jika ada perusahaan atau label yang ingin berkolaborasi dalam kampanye mendesak pengesahan RUU PKS. "Kami mengajak, tapi kami tidak bisa memaksakan," katanya. "Semoga yang kami lakukan bisa menginspirasi."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    INFO 7 Tips Mengajar di Masa Pandemi Covid-19

    Pandemi akibat wabah virus corona memaksa siswa berdiam di rumah. Mendikbud Nadiem Makarim memiliki 7 tips mengajar di masa pandemi Covid-19.