Cara Membedakan Siklus Haid dengan Pendarahan Jelang Menopause

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembalut. Freepik.com

    Ilustrasi pembalut. Freepik.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Menopause terjadi pada usia yang berbeda-beda. Namun, sebelum sampai pada fase tersebut, seorang perempuan akan mengalami fase transisi atau perimenopause. Fase ini berdampak pada banyak hal, termasuk siklus menstruasi. 

    Fase perimenopause bisa terjadi berbeda-beda antara satu perempuan dan lainnya. Bisa terjadi hanya beberapa bulan saja hingga 10 tahun. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron di fase ini tak terhindarkan.

    Ada beragam gejala yang muncul, bahkan seperti tidak haid tapi negatif ketika melihat hasil testpack. Selain itu, beberapa hal ini juga terjadi saat perimenopause.

    1. Flek di antara siklus haid

    ADVERTISEMENT

    Menjelang menopause, seorang bisa mengalami pendarahan tetapi bukan haid. Ini terjadi karena ada perubahan hormonal serta penebalan dinding rahim. Umumnya, pendarahan jelang menopause ini terjadi sebelum atau setelah haid. Jika pendarahan menjelang menopause terjadi secara teratur setiap dua minggu, bisa jadi tanda ketidakseimbangan hormon. Konsultasikan lebih detil dengan dokter.

    2. Siklus haid berantakan

    Karena fluktuasi hormon, siklus haid jadi berantakan. Bahkan, jaraknya bisa sangat berjauhan hingga berbulan-bulan. Jika 12 siklus tanpa haid berantakan, itu artinya telah memasuki fase menopause. Namun apabila seseorang tidak mengalami haid selama satu atau dua kali saja, ada kemungkinan ovulasi terjadi dan positif hamil.

    Tanda-tanda kehamilan umumnya disertai dengan mual, morning sickness, perubahan payudara, lebih sering buang air kecil, hingga sensitif terhadap aroma tertentu.

    3. Darah haid sangat banyak

    Terjadi ketidakseimbangan hormon pada masa ini. Ketika hormon estrogen jauh lebih tinggi ketimbang hormon progesteron, maka dinding rahim akan menebal. Konsekuensinya, luruhan dinding rahim jauh lebih banyak sehingga keluar gumpalan darah haid yang mirip daging. Istilah medis untuk ini adalah menorrhagia.

    Ciri-ciri pendarahan jelang menopause ini antara lain aliran darah haid tak terbendung sehingga pembalut penuh hanya dalam hitungan 1-2 jam, tidur terinterupsi untuk mengganti pembalut, haid berlangsung lebih dari 7 hari, tubuh terasa lemah, dan risiko mengalami anemia.

    4. Siklus haid lebih singkat atau lama

    Siklus haid akan menjadi lebih singkat dengan volume darah sedikit pula. Ini umum terjadi pada tahap awal perimenopause, seperti 2-3 hari lebih singkat dibandingkan dengan durasi haid biasanya. Siklusnya pun bisa jadi hanya 2-3 minggu sebelum haid selanjutnya datang. Sebaliknya, siklus menstruasi bisa juga menjadi lebih lama, yaitu lebih dari 38 hari.

    5. Darah berwarna gelap

    Darah haid warnanya beragam, antara merah hingga cokelat tua. Namun, pada fase perimenopause, tubuh bisa mengeluarkan darah berwarna gelap atau kecokelatan bahkan saat sedang tidak haid sekalipun. Teksturnya bisa berubah mulai dari encer hingga kental. Waspada jika darah yang keluar berwarna gelap disertai cairan vagina beraroma tidak sedap atau gatal.

    SEHATQ



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.