Selain Batu Ginjal, Ini 4 Risiko Konsumsi Bit

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi smoothie buah bit. shutterstock.com

    Ilustrasi smoothie buah bit. shutterstock.com

    TEMPO.CO, JakartaBit cukup populer karena kaya akan serat, vitamin dan mineral. Jenis sayur umbi akar ini sering dianggap sebagai buah. Banyak orang juga berusaha mendapatkan manfaat bit dengan mengolahnya sebagai jus.

    Pada sebagian besar individu, bit dapat ditoleransi dengan baik dan menawarkan beragam manfaat kesehatan. Manfaat bit tersebut termasuk mengontrol tekanan darah, meningkatkan performa fisik, melawan peradangan di dalam tubuh, memelihara sistem pencernaan, meningkatkan fungsi otak, berpotensi untuk melawan sel kanker, dan dapat menjadi makanan yang mendukung penurunan berat badan

     
    Bahaya “buah” bit pada kelompok individu tertentu
     
    1. Risiko batu ginjal

    Bit, terutama bit hijau, mengandung zat yang disebut oksalat dalam kadar yang tinggi. Zat ini memiliki efek antinutrisi, yakni zat yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi mikro lain yang diperlukan oleh tubuh. Selain itu, oksalat juga berisiko memicu pembentukan batu ginjal pada beberapa orang. Inilah bahaya “buah” bit yang patut Anda waspadai. Kadar oksalat dalam tanaman ini sebenarnya lebih tinggi di bagian daun dibandingkan pada bagian akar umbinya. Namun bagaimanapun, kadar oksalat dalam akar bit tetaplah tergolong tinggi. Apabila Anda menjalani diet rendah oksalat atau memiliki riwayat batu ginjal, Anda disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi bit.

    2. Risiko gangguan sistem pencernaan

    Bahaya “buah” bit lainnya yang perlu diwaspadai adalah kandungan jenis FODMAP  yang disebut fruktan. FODMAP merupakan kelompok karbohidrat rantai pendek yang resisten terhadap sistem pencernaan. Artinya, FODMAP seperti fruktan tidak dapat dicerna oleh tubuh dan pada akhirnya menjadi makanan untuk bakteri di usus.Kandungan FODMAP dapat menimbulkan efek negatif bagi sistem pencernaan pada orang yang sensitif, terutama individu yang menderita sindrom iritasi usus (IBS). FODMAP juga dapat menarik air ke lingkungan usus – sehingga berisiko memicu diare.  

    3. Peringatan reaksi alergi 

    Seperti banyak makanan lain, bit juga berisiko memicu reaksi alergi bagi beberapa individu. Kasus reaksi alergi terhadap bit sebenarnya jarang terjadi – namun Anda tetap harus berhati-hati. Dalam sebuah laporan yang dimuat dalam Clinical and Translational Allergy disebutkan bahwa uap dari bit yang dimasak dapat memicu asma dan rhinoconjunctivitis (reaksi alergi pada hidung dan mata). Reaksi kulit, hidung tersumbat, tenggorokan terasa gatal, dan pengencangan otot-otot pada cabang batang tenggorokan juga dilaporkan.

    4. Tekanan darah rendah 

    Bahaya “buah” bit ini juga perlu diperhatikan bagi beberapa orang. Walau bit mengandung nitrat yang dapat mengendalikan tekanan darah, beberapa orang perlu mewaspadai efek bit ini – terutama pada penderita tekanan darah rendah serta pasien yang mengonsumsi obat tekanan darah tinggi. Apabila Anda masuk dalam kelompok pasien di atas, Anda harus berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin mengonsumsi bit maupun jus bit.

    5. Urine dan feses berwarna merah

    Efek ini sebenarnya bukanlah bahaya “buah” bit, melainkan efek dari konsumsinya. Bit mengandung pigmen alami yang memberikan warna ungu kemerahan. Setelah mengonsumsi bit, beberapa orang mungkin akan mengalami perubahan warna urine menjadi merah muda atau ungu. Kondisi ini disebut dengan beeturiaTak hanya urin, feses atau kotoran mungkin juga akan berubah menjadi ungu atau kemerahan. Efek pada urine dan feses tersebut bersifat sementara dan tidak berbahaya.

    SEHATQ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.