5 Fakta tentang Vitamin C, Nutrisi yang Penting untuk Imunitas di Masa Pandemi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi vitamin C (Pixabay.com)

    Ilustrasi vitamin C (Pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Vitamin C sering dikaitkan dengan imunitas atau kekebalan tubuh, hal paling penting di masa pandemi. Namun, banyak kabar simpang siur tentang vitamin ini, misalnya tentang jumlah yang dibutuhkan hingga kebutuhan suplemen. 

    Pakar bidang mikrobiologi dan imunologi nutrisi Megan Meyer mengungkap lima fakta paling penting tentang nutrisi ini.

    1. Apa manfaat vitamin C?

    "Vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Ini memainkan peran penting dalam sistem saraf, metabolisme, dan kekebalan, " kata direktur komunikasi sains di International Food Information Council ini.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu, vitamin C membantu penyerapan mikronutrien, terutama zat besi.

    2. Berapa banyak vitamin C yang dibutuhkan dalam sehari?

    Menurut Meyer, angka kecukupan gizi (AKG) yang disarankan untuk vitamin C berkisar dari 15 miligram hingga 120 miligram per hari, tergantung pada usia dan jenis kelamin. AKG juga meningkat jika sedang hamil atau menyusui.

    International Food Information Council menyebutkan, bayi usia 0-6 bulan butuh 40 miligram (mg) vitamin C setiap hari dan usia 7-12 bulan 50 mg. Untuk usia 1-3 tahun butuh 15 mg, 4-8 tahun butuh 25 mg, 9-13 tahun butuh 45 mg, 13-8 tahun 65-75 mg, dan di atas 19 tahun 75-90 mg. Khusus ibu menyusui, kebutuhannya adalah 120 mg setiap hari.

    3. Bisakah vitamin C membantu meningkatkan kekebalan tubuh?

    Vitamin C dibutuhkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh atau imunitas. Namun, Ali Webster, direktur penelitian dan komunikasi nutrisi untuk International Food Information Council, tak perlu suplemen jika makan sudah makan dengan benar.

    "Penelitian telah menunjukkan bahwa mengonsumsi dosis tinggi dalam bentuk suplemen sebenarnya tidak ada gunanya bagi kita dalam melawan penyakit, seperti flu biasa."

    Lebih banyak vitamin C belum tentu lebih baik, karena tubuh kita hanya dapat menyerap beberapa ratus miligram dalam satu waktu. "Berapa pun jumlah di atas ini akan dikeluarkan melalui urin."

    4. Apakah bisa overdosis vitamin C?

    “Karena vitamin C larut dalam air, ia memiliki toksisitas rendah dan tidak terkait dengan efek samping dosis tinggi,” kata Meyer.

    Namun, Food and Nutrition Board di Institute of Medicine of the National Academies menyatakan bahwa asupan vitamin C jangka panjang dengan jumlahnya jauh dari yang dibutuhkan dapat meningkatkan risiko efek samping kesehatan.

    Saat mengonsumsi obat tertentu, asupan suplemen vitamin C juga perlu diperhatikan. Sebab, suplemen vitamin C dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat seperti statin, kemoterapi, dan radiasi.

    Terlepas dari riwayat medis dan dosis Anda, semua orang harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen vitamin C.

    5. Apa makanan sumber vitamin C yang paling baik?

    Menurut Meyer, vitamin C dalam jumlah tinggi dapat ditemukan pada sayuran (seperti brokoli, kubis Brussel, kubis, kembang kol, kentang, bayam, dan tomat), buah jeruk, stroberi, dan jus tomat.

    REAL SIMPLE | FOOD INSIGHT 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.