Cara Dian Sastro Mengajarkan Nilai Kebaikan pada Dua Anaknya

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis Dian Satro mengunggah fotonya seusai berdandan meskipun sedang menjalani hari dengan di rumah saja pada 14 April 2020. Dian menyebut berdandan merupakan salah satu caranya untuk mengusir stres saat harus berdiam diri di dalam rumah saat pandemi virus corona. Instagram/@Therealdisastr

    Artis Dian Satro mengunggah fotonya seusai berdandan meskipun sedang menjalani hari dengan di rumah saja pada 14 April 2020. Dian menyebut berdandan merupakan salah satu caranya untuk mengusir stres saat harus berdiam diri di dalam rumah saat pandemi virus corona. Instagram/@Therealdisastr

    TEMPO.CO, Jakarta - Survei yang dilakukan oleh lembaga psikologi Tiga Generasi pada 2019-2020 menyebutkan, kebanyakan orang tua menganggap nilai yang paling penting diajarkan kepada anak adalah kebaikan. Tapi bagaimana mengajarkannya? 

    Setiap orang tua punya cara masing-masing. Tapi, Dian Sastro mengajarkan kepada dua anaknya, Syailendra Naryama Sastraguna Sutowo dan Ishana Ariandra Nariratana Sutowo, prinsip utama kalau tidak suka diperlakukan buruk oleh orang lain, mereka juga tidak boleh melakukan hal yang buruk pada orang lain. 

    Aktris kelahiran 16 Maret 1982 ini juga mengajarkan anaknya tentang kepekaan. "Untuk bisa menjadi tetap baik maka mereka juga perlu peka, nah caranya dengan tidak menerapkan standar diri sendiri pada orang lain. Misal jangan dibandingkan soal materi dengan yang lain, begitu pula ketika melihat yang lebih baik tidak langsung kepengen," ucap Dian dalam Live Instagram Tiga Generasi, Selasa 1 September 2020.

    Dia juga mengenalkan perbedaan dengan berbagai latar belakang. Dia membiasakan anak-anaknya agar tidak merasa paling benar. Menurut dia, inilah bagian yang sulit karena setiap orang tua, yang jadi pusat informasi anak, punya standar kebenaran. 

    "Perlu diingatkan kepada mereka bahwa kita belum tentu yang paling baik," kata istri Maulana Indraguna Sutowo ini.

    Ketika anak semakin bertumbuh, akan ada counter opini yang membuat mereka bisa memberikan argumen kepada orang tua. Artinya kebenaran orang tua juga ada kalanya bisa saja berbeda di mata anak.

    "Akhirnya kita pun mesti terbuka dan diskusi juga berjalan, sama kita menjadi contoh ke mereka. Orang tua juga tidak selalu benar," kata dia.

    Hal itu pernah dialami Dian. Ketika anak pertamanya kelas 2 SD, dia mulai menunjukkan pendapat dan argumen yang harus didengar. Mereka jadi sedih kalau tidak didengar.

    Sebagai contoh, melihat bekerja dari rumah, mereka melihat dari sudut pandang sendiri bahwa orang tua tak selalu bekerja. Ada kalanya main Instagram atau game. Lalu, kenapa mereka tidak boleh? Akhirnya mereka pun membuat kesepakatan atau konsensus. 

    Dian Sastro dan suaminya kerap berdiskusi tentang pola asuh yang dilakukan atau sikap apa saja yang perlu diajarkan ke anak-anak.

    "Misalnya soal pemberian punishment atau hukuman, bukan semata soal dihukum tapi konsep dan alasannya kenapa tidak boleh melakukan hal tertentu," kata dia.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.