Keluhan Kulit Ibu Hamil saat Pandemi selain Stretch Mark dan Hiperpigmentasi

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi perawatan kulit ibu hamil. Shutterstock

    Ilustrasi perawatan kulit ibu hamil. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Saat hamil, terjadi berbagai perubahan pada sistem kekebalan tubuh, hormonal, metabolisme dan pembuluh darah. Perubahan ini dapat membuat kulit dan struktur atau jaringan di sekitarnya mengalami perubahan atau kelainan.

    Dokter spesialis dermatovenereologi Vita Siphra Sirait mengatakan, perubahan atau kelainan kulit dalam kehamilan umumnya normal (fisiologis). Pada masa pandemi ini ibu hamil juga dapat mengalami kelainan kulit karena praktik kebersihan diri yang berlebihan.

    Bentuk kelainan kulit yang normal (fisiologis) pada ibu hamil bervariasi, yang paling sering terjadi adalah hiperpigmentasi, yaitu linea nigra (garis hitam memanjang melewati pusat hingga tulang kemaluan), daerah sekitar puting susu menggelap, serta kulit leher dan lipatan menghitam.

    "Kelainan hiperpigmentasi ini berkaitan dengan peningkatan hormon estrogen dalam kehamilan menyebabkan peningkatan hormon yang menstimulasi pembentukan pigmen," ucapnya dalam Virtual Media Briefing Bamed Healthcare, Rabu, 26 Agustus 2020.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu, ibu hamil juga sering mengalami stretch mark akibat peregangan kulit karena perut yang membesar. Ada beberapa kelainan kulit yang dipengaruhi oleh peningkatan kadar hormon pada kehamilan, di antaranya yang tersering adalah infeksi jamur pada genitalia dan jerawat.

    “Pada era pandemi, ibu hamil juga dapat mengalami kelainan kulit akibat mengenakan masker. Kandungan formaldehyde pada masker dapat menyebabkan dermatitis kontak alergi, yang dapat diperberat bila kelembapan daerah wajah selama ini tidak optimal," ucapnya.

    Vita juga mengatakan bahwa ibu hamil sering mencuci tangan dan penggunaan desinfektan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tidak disertai penggunaan pelembap. Itu sebabnya, kadang-kadang ibu hamil juga perlu melakukan konsultasi dengan dokter kulit atau menjalani prosedur kosmetik.

    "Ibu hamil juga dapat menjalani prosedur kosmetik yang aman, contohnya peeling. Tindakan ini dapat membantu mengatasi kondisi kelainan kulit berupa jerawat atau kehitaman pada kulit yang sering terjadi dalam kehamilan, yang efek kerjanya terbatas hanya pada jaringan kulit sehingga tidak mempengaruhi janin," lanjut dia.

    Hindari penggunaan agen peeling yang mengandung salisil karena dalam jumlah yang banyak dapat diabsorbsi sistemik (tidak terbatas hanya pada jaringan kulit). Tidak banyak prosedur kosmetik yang dipastikan aman dapat dijalani oleh ibu hamil, karena penelitian pada ibu hamil masih terbatas.

    Pada saat hamil, seorang wanita mengalami perubahan hormon yang fisiologis. Hal ini dapat menimbulkan masalah berupa jerawat dan gangguan pigmentasi. Gangguan pigmentasi pada ibu hamil sering berupa flek hitam pada wajah, wajah tampak kusam dan daerah lipatan yang bertambah gelap.

    Untuk kasus yang demikian, dapat dilakukan tindakan Combination Rejuvenation Treatment (CRT) yang berupa kombinasi antara mikrodermabrasi Athena dengan terapi oksigen hiperbarik (Intraceutical) atau kombinasi chemical peeling dengan Intraceutical.

    "Perawatan kesehatan personal diperbolehkan dan disarankan pada ibu hamil. Disarankan rutin menggunakan pelembap untuk menghindari kelainan kulit iritasi akibat sering mencuci tangan di era pandemi ini," ucap Vita.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Darurat vs PPKM Level 4: Beda Istilah Sama Rasa

    Instruksi Mendagri bahwa PPKM Level 4 adalah pemberlakukan pembatasan kegiatan di Jawa dan Bali yang disesuaikan dengan level situasi pandemi.