Cara Tepat Melepas Masker saat Makan di Luar, Jangan Letakkan Sembarangan

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita memakaikan masker pada orang lain. Freepik.com/Prostoleh

    Ilustrasi wanita memakaikan masker pada orang lain. Freepik.com/Prostoleh

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah menyadari pentingnya menggunakan masker saat keluar rumah di pandemi. Namun, apakah cara memakai dan melepas masker sudah benar?

    Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kemenkes RI Riskiyana Sukandhi Putra menjelaskan secara umum ada tiga jenis masker, yaitu N95 yang digunakan oleh tenaga medis beserta baju hazmat, masker bedah atau masker medis yang berwara hijau, dan masker kain yang digunakan oleh masyarakat umum.

    Riskiyana mengimbau saat ini untuk masyarakat agar lebih pilih masker kain, jika menyesuaikan dengan saran WHO agar maskernya terdiri atas tiga lapis.

    “Menggunakannya agar hanya pegang di tepinya, jangan pegang tengahnya, lalu kita pakaikan dan tarik ujung bawah, tutup hidung sampai dagu,” jelasnya.

    Ketika harus membuka masker untuk makan atau minum, bisa membuka bagian tepinya dan taruh di atas tisu dengan bagian luarnya menyentuh tisu sebelum ditaruh di meja. Sebelum dipakai lagi, jangan lupa untuk mencuci tangan terlebih dahulu atau menggunakan hand sanitizer.

    “Pakai masker kain hanya bisa digunakan maksimal 4 jam, atau kurang dari 4 jam kalau yang menggunakan masker sakit atau bersin-bersin, batuk, atau kotor,” tegasnya.

    Masker kain ini dia bisa digunakan lagi setelah dicuci dengan air yang hangat 60 derajat Celcius, diberi detergen, dikucek, kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dan di setrika.

    “Banyak masyarakat yang pakai masker medis, sebetulnya memang lebih bagus tidak apa-apa selama pasokannya ada terus terutama untuk tenaga medis. Masker medis kalau bisa memang dipakai oleh tenaga medis yang membutuhkan. Untuk yang sakit juga disarankan pakai masker medis. Sakitnya bukan harus yang positif Covid-19, tapi untuk semua yang punya gejalan seperti influenza,” jelasnya.

    Selanjutnya, untuk pembuangan masker medis menghindari masker bekas disalahgunakan dan dijual kembali, jadi membuangnya diimbau untuk dirusak dulu, disobek atau digunting sebelum kemudian dibuang di tempat sampah yang tertutup.

    Harapannya, kata Riskiyana, masyarakat bisa meregulasi dirinya sendiri, karena kalau tidak timbul kesadarannya akan sulit menangani Covid-19.

    “Masker ini pengaruhnya cukup besar, lebih dari 50 persen pencegahan bisa diperankan dari penggunaan masker. Jadi ini yang jadi fokus pertama kami,” kata Riskiyana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Traveling Virtual di Masa Pandemi Covid-19

    Dorongan untuk tetap berjalan-jalan dan bertamasya selama pandemi Covid-19 masih tinggi.