Sering Berpakaian Ketat, Dampak Buruknya Badan Pegal, GERD Hingga Iritasi

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita menggunakan celana jeans. Freepik.com/Drobotdean

    Ilustrasi wanita menggunakan celana jeans. Freepik.com/Drobotdean

    TEMPO.CO, JakartaBeberapa orang kerap menggunakan pakaian ketat. Selain untuk kesenangan tersendiri, pakaian ketat juga dianggap mengikuti tren tertentu. Padahal jika sering menggunakan pakaian ketat ternyata berdampak buruk bagi kesehatan. 

    Jika Anda sering menggunakan pakaian ketat, mulai dari pakaian dalam, kaus, celana, hingga dasi, dalam jangka panjang tidak hanya bisa menyebabkan rasa tak nyaman. Berikut ini dampak buruk terlalu sering menggunakan pakaian ketat, dari badan pegal-pegal hingga gangguan saraf. 

    Dampak buruk pakaian ketat untuk kesehatan 

    1. Pegal-pegal

    Penggunaan pakaian yang ketat terutama pakaian dalam seperti bra dapat menyebabkan nyeri otot pada punggung juga leher. Bra yang ketat juga berpotensi membentuk postur tubuh yang buruk, seperti membungkuk. Tak hanya itu, tali bra yang mengikat terlalu ketat juga bisa menyebabkan garis-garis lekukan pada bahu dan lingkar bawah payudara. Hal ini tentu dapat mengganggu penampilan dan berpptensi menurunkan rasa percaya diri. Penggunaan bra dengan ukuran tidak tepat juga bisa menyebabkan nyeri payudara.

    ADVERTISEMENT

    2. GERD (gastroesophageal reflux disease)

    Penggunaan pakaian ketat pada area perut, baik itu kemeja, celana, maupun ikat pinggang, bisa saja memicu GERD. Kondisi ini lebih umum terjadi pada saat pengguna makan dalam jumlah banyak. GERD (penyakit asam lambung naik) adalah kondisi di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan yang umum ditandai dengan sensasi terbakar di dada. Pakaian ketat pada area perut bisa saja memberi tekanan ekstra pada area ini yang turut menekan lambung sehingga asam lambung naik ke kerongkongan. Sebab itu, jangan gunakan pakaian ketat bila ingin makan banyak.

    3. Gangguan saraf

    Penggunaan pakaian ketat, seperti korset dan stoking, bisa saja menyebabkan gangguan pada saraf area paha atas atau bagian bawah perut. Salah satu contoh gangguan saraf yang bisa terjadi adalah meralgia parasthetica, yaitu iritasi saraf pada area paha. Kondisi ini bisa menyebabkan area paha terasa nyeri, seperti terbakar, atau nyeri saat disentuh.

    4. Gangguan aliran darah

    Selain berpotensi menyebabkan gangguan saraf, penggunaan stoking ataupun celana ketat juga bisa menghambat aliran darah di area paha. Hal ini karena otot pada area ini mendapat tekanan berlebih sehingga aliran darah tersendat. Kondisi ini bisa menyebabkan area paha mati rasa.

    Keadaan yang sama, yaitu terhambatnya aliran darah, juga bisa terjadi pada area leher bila Anda menggunakan dasi yang terlalu ketat. Gangguan aliran darah pada leher bahkan berpotensi memicu masalah yang lebih besar, seperti stroke.

    5. Infeksi jamur dan infeksi saluran kemih

    Penggunaan celana dalam yang terlalu ketat bisa memicu terjadinya infeksi bakteri maupun jamur pada area kemaluan. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan celana dalam ketat dapat meningkatkan temperatur sekaligus kelembapan pada area kemaluan sehingga organisme seperti bakteri dan jamur, lebih mudah berkembang biak.

    6. Iritasi kulit

    Penggunaan pakaian ketat lebih berpotensi menyebabkan iritasi hingga alergi pada kulit, terutama bila bahan pakaian cukup kasar. Hal ini karena pakaian ketat membuat bahan tersebut bersentuhan dan bergesekan langsung dengan kulit, apalagi bila kulit mudah berkeringat. Keadaan ini membuat potensi iritasi meningkat.

    SEHATQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.