Tips Aman Makan Daging Kurban tanpa Takut Kolesterol dan Berat Badan Naik

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ilustrasi sate  (pixabay.com)

    ilustrasi sate (pixabay.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Perayaan hari besar identik dengan makanan yang beragam. Begitu juga Idul Adha. Biasanya momen ini diramaikan dengan santapan berbahan daging sapi dan kambing kurban yang tinggi kolesterol.

    Dikutip dari laman produsen suplemen serat FibreFirst, makan olahan daging kurban dapat menyebabkan naiknya kolesterol dan berat badan. Dilihat dari kandungan gizinya, daging ini tinggi lemak, khususnya lemak jenuh, dan kolesterol. 

    Nourmatania Istiftiani, Scientific FibreFirst ikut menekankan, konsumsi makanan tinggi lemak dan kalori, seperti dalam hidangan Idul Adha juga berisiko meningkatkan kadar kolesterol darah.

    Namun, bukan berarti kita tidak dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol dan berat badan saat Idul Adha. Ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi dan mencegah kedua hal tersebut, antara lain:

    Pilih daging dengan sedikit lemak

    Pilih bagian daging yang mengandung sedikit lemak atau buang lemak yang ada di daging kurban. Hindari juga mengonsumsi bagian jeroan, karena mengandung tinggi lemak dan kolesterol.

    Porsi secukupnya

    Perhatikan porsi atau jumlah daging yang dikonsumsi. Terlalu banyak mengonsumsi makanan tinggi kalori atau tinggi lemak juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pencernaan yang umum terjadi pada hari raya, seperti refluks dan dispepsia.

    Konsumsi cukup serat dari buah dan sayuran

    Buah dan sayuran adalah sumber serat yang memiliki manfaat positif untuk kadar kolesterol. Diet tinggi serat dapat menurunkan kolesterol hingga 10 persen. Konsumsi serat, khususnya serat larut air (seperti psyllium, pektin, beta glucan, dll), akan mengikat kolesterol yang ada di pencernaan dan mengeluarkannya bersama dengan feses.

    "Konsumsi serat juga dapat membantu mengontrol berat badan, karena serat memberikan rasa kenyang dan akan difermentasi oleh bakteri pencernaan, membentuk asam lemak rantai pendek yang dapat meningkatkan pembakaran lemak serta mengurangi penyimpanan lemak”, kata dokter spesialis gizi klinik Hilna Khairunisa. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Mitos Tentang Garam dan Bagaimana Cara Mensiasatinya

    Tidak makan garam bukan berarti tubuh kita tambah sehat. Ada sejumlah makanan dan obat yang kandungan garamnya meningkatkan risiko serangan jantung.