Virus Corona Menyebar di Udara, Apakah Face Shield Masih Efektif?

Reporter:
Editor:

Mila Novita

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang model mengenakan face shields berpose di samping mobil Mitsubishi yang dihadirkan dalam pameran Bangkok International Motor Show ke-41 di Bangkok, Thailand 14 Juli 2020. REUTERS/Jorge Silva

    Seorang model mengenakan face shields berpose di samping mobil Mitsubishi yang dihadirkan dalam pameran Bangkok International Motor Show ke-41 di Bangkok, Thailand 14 Juli 2020. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ahli sepakat bahwa melindungi area wajah saat di tempat umum penting untuk mencegah penularan virus corona. Saat ini ada beberapa pilihan pelindung wajah. Selain masker bedah dan masker kain, kini face shield pun banyak dicari. Apakah face shield efektif melindungi, mengingat virus corona kini disebut menyebar di udara? 

    David Edwards dari Universitas Harvard, yang juga CEO dan Pendiri Sensory Cloud, mengatakan ada pro dan kontra soal face shield. Meskipun efektif mencegah tetesan pernapasan yang keluar melalui batuk atau bersin, pelindung wajah ini tidak dapat memblokir partikel yang lebih kecil. Sebab, pelindung wajah tidak sepenuhnya menutup muka.

    "Partikel yang lebih kecil tidak berjalan seperti peluru, mereka melayang di udara dan di bawah face shield, Anda masih bernapas di udara itu," kata Edwards seperti dikutip People, Kamis, 16 Juli 2020.

    Jadi, Edwards tetap merekomendasikan menggunakan masker, baik dipakai bersama dengan face shield atau tidak.

    ADVERTISEMENT

    "Dari sudut pandang ilmiah, jika Anda bertanya kepada saya, masker kelas bedah versus face shield, saya akan memakai masker," katanya.

    Menurut dia, masker kelas rumah sakit N95 adalah yang terbaik dalam mencegah penyebaran COVID-19. Namun, itu hanya disediakan untuk profesional medis dan pekerja garis depan lainnya.

    Sebuah studi baru-baru ini menetapkan bahwa masker kain yang dijahit berlapis-lapis jadi pilihan paling efektif kedua. Menurut Edwards, semakin banyak lapisan maka semakin baik.

    "Ilmu pengetahuan di sini sangat mudah. Anda ingin masker berlapis yang memiliki ukuran pori yang sangat kecil, yang pas untuk wajah."

    Pilihan lain yang sedang naik daun adalah masker dengan tengah plastik transparan memperlihatkan mulut sehingga sangat berguna saat berkomunikasi, terutama dengan orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran. Namun, ini belum diuji keefektifannya.

    "Segala jenis integrasi bahan plastik yang jenisnya tidak dapat ditembus partikel, tapi Anda harus memestikan segelnya baik," katanya.

    Meskipun saat ini tidak ada data tentang efektivitas topeng dengan tengah plastik, John Whyte, Kepala Medical Officer di WebMD dan koresponden kesehatan MSNBC, mengatakan bahwa masker ini berpotensi menawarkan perlindungan lebih karena dapat mencegah orang melepas masker mereka selama bercakap-cakap.

    Sekelompok peneliti di Florida Atlantic University’s College of Engineering and Computer Science belum lama ini menemukan bahwa tanpa masker, tetesan dari batuk menyebar lebih dari 8 kaki (2,4 meter), melebihi jarak sosial yang direkomendasikan 6 kaki (1,8 meter).

    Namun, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa risiko penularan virus corona turun 85 persen ketika orang mengenakan masker. “Pada poin ini masker sangat penting, mencuci tangan sangat penting, jarak sosial sangat penting. Apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali,” kata Edwards.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...